BEBERAPA KEKELIRUAN DALAM PEMBELAJARAN DI DUNIA PENDIDIKAN

Oleh: Agus Gufron Tamami, S.Th.I., MA
Guru MTSN 1 Pelalawan

Tugas mengajar adalah menyampaikan informasi kepada siswa dengan berbagai macam cara, yang paling efektif tempatnya adalah di sekolah. Di sekolah, selain tempat bermain ia merupakan tempat berinteraksi antar teman dengan kegiatan dan aturan yang sama. Mengajar sering diidentikkan dengan mendidik. Padahal mengajar cakupannya lebih sempit dibanding mendidik. Mendidik adalah menciptakan pengalaman dalam rangka menumbuhkembangkan kepribadian secara jasmani, akali, dan akhlaqi dari lahir sampai mati. Artinya tanggungjawab pembelajaran lebih berat dibandingkan pengajaran. Hal ini bisa dilihat dalam proses pembelajaran tingkat Anak Usia Dini sampai perguruan tinggi. Pembelajaran di tingkat rendah dituntut untuk telaten dan menjadikan tenaga-tenaga edukatifnya sebagai model yang digugu dan ditiru. Terkadang seorang guru terpaksa melakukan “kekerasan” demi tercapainya tujuan pembelajaran. Sementara di dunia kampus lebih menekankan perkembangan nalar dengan tugas-tugas mandiri dan diskusi kelompok yang terstruktur. 

            Upaya keberhasilan pembelajaran yang diiringi kekerasan telah banyak menuai kritik apalagi ada undang-undang yang mengatur perlindungan anak dan Hak Asasi Manusia (HAM). Apabila kita mengingat bagaimana jika guru kita dulu tidak menampar kita saat lalai, tentu kita tidak sebaik seperti sekarang ini. Dengan kata lain tamparan kasih sayang seorang guru sangat diperlukan untuk keberhasilan kita.

Pada Hari Guru Nasional (HGN) ke-67 guru mendapat kado istimewa, yaitu berdasarkan keputusan bersama dengan PGRI bahwa Guru “nakal” tidak bisa langsung dipolisikan. Perilaku istimewa bagi para guru ini bakal menghapus kasus-kasus kriminalisasi guru yang akhir-akhir ini marak. Ketua Umum PB PGRI Sulistyo menyampaikan bahwa keputusan bersama atau MoU pihaknya dengan jajaran kepolisian sudah masuk tahap finalisasi oleh Bareskrim Mabes Polri. Setelah kode etik guru ini diterbitkan seluruh pelanggaran profesi guru akan diproses oleh Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI) dan ini sudah dibentuk mulai tingkat pusat hingga kota.

Kemudian kasus-kasus yang memilukan dan memalukan adalah tawuran antar pelajar dan. Hal ini tentu menjadi cermin buram bagi wajah kegagalan pembelajaran sekarang ini. Memang tidak serta merta kesalahan sepenuhnya kepada sekolah, tetapi banyak komponen yang mendukung diantaranya yaitu: (1) Pemerintah yang membuat kebijakan tentang pembelajaran, apakah kurikulum KBK atau KTSP yang berkarakter; (2) Guru yang profesinal yang menjadi ujung tombak pembelajaran di sekolah. Murid yang senantiasa belajar idealnya harus sanggup mematuhi tata tertib sekolah yang dibuat bersama dan disepakati saat awal masuk;  (3) Lingkungan tempat tinggal, yang bertanggungjawab terutama orang tua siswa, karena disinilah murid paling lama mengenyam pembelajaran.

Jika dicermati fenomena-fenomena di atas mengindikasikan terdapat kekeliruan-kekeliruan dalam pembelajaran. Kekeliruan mendidik dalam bentuk-bentuk kegiatan pembelajaran yang tujuannya tidak benar dan atau cara pencapaiannya tidak tepat, dimana tujuan pembelajaran dikatakan tidak benar apabila berisi nilai-nilai hidup yang bersifat mengingkari dan merusak harkat dan martabat manusia sebagai pribadi, warga, dan hamba Allah. Sedangkan suatu cara mendidik dikatakan tidak tepat apabila cara yang dipergunakan tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Dengan demikian kekeliruan mendidik dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu kekeliruan dasar falsafah kenegaraan mendidik dan kekeliruan teknis mendidik.

Pertama, bentuknya berupa kegiatan pembelajaran patologis atau demagogis, yaitu kegiatan pembelajaran yang salah tujuannya, karena norma-norma yang menjadi tujuan pembelajaran mengandung unsur yang mengingkari kemanusian dan bahkan mempropagandakan dan mendorong pada perbuatan-perbuatan merusak dan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya melatih pencopet atau penjahat profesional, mempropagandakan sikap diskriminasi rasial, mengobarkan semangat permusuhan terhadap golongan, bangsa, atau ras lain, dan sebagainya.

Kedua, bentuknya berupa kegiatan pembelajaran yang salah teknis pelaksanaannya, yaitu kesalahan dalam cara memilih dan menggunakan alat pembelajaran (kegiatan mendidik dan penciptaan situasi atau lingkungan pembelajaran). Diantaranya yaitu kekeliruan cara mendidik, dimana mendidik dengan cara memanjakan atau sanksi yang tidak terlalu membuat anak didik jera, mengembangkan keterampilan hanya dengan ceramah dan lain sebagainya. Selanjutnya kekeliruan ekologis atau menciptakan lingkungan hidup yang kurang mendukung pencapaian kedewasaan. Misalnya penyiaran TV penuh kekerasan atau pornografi, lemahnya kontrol sosial, penciptaan lembaga pembelajaran formal yang tidak tepat, dan sebagainya.

Selain itu, pada proses pembelajaran di sekolah sangat membelenggu peserta didik dan, bahkan juga para guru. Hal ini bukan hanya karena formalisme sekolah, misalnya dalam hal administrasi, kurikulum dan silabus yang cenderung sangat ketat, juga karena beban kurikulum yang sangat berat. Akibatnya hampir tidak ada lagi yang tersisa ruang bagi para peserta didik untuk mengembangkan imajinasi dan kreatifitas kognisi, afeksi, dan psikomotoriknya.

Pada kekeliruan pertama, pembelajaran patologis atau demagogis apabila berhasil, akan melahirkan orang-orang yang cacat moral, yang mempunyai watak ingin merusak kehidupan manusia atau berbuat kemungkaran. Menghadapi orang demikian harus dilakukan reedukasi atau mendidik kembali. Dengan cara dilakukan pembinaan dari awal. Manusia menurut fitrahnya memerlukan pembelajaran untuk mempertahankan hidupnya, sehingga ia akan mencari tahu sebanyak mungkin dan akan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya.

Pada tataran ini tujuan pembelajaran harus diluruskan sesuai fitrahnya. Hasan al-Banna menyimpulkan tujuan pembelajaran dalam tiga hal; pertama, al-quwwat al-jasmaniyyah yaitu mendidik bagaimana peserta didik mempunyai kesehatan jasmani dengan latihan-latihan fisik, kepanduan dan kemiliteran. Hadis rasul; ‘allimu auladakum as-sibahah (ajari anak-anakmu pandai berrenang). Sehingga diasumsikan al- ‘aql as-salim fi jism as-salim, akal sehat terletak pada badan yang sehat. Kedua, al-quwwat al-’aqliyyah yaitu pembelajaran bertujuan mencetak intelektual yang kuat dan berpengetahuan luas. Ketiga, al-quwwat ar-ruhiyyah atau al-khuluqiyyah, adalah pembelajaran yang menyiapkan kadernya bagus emosi dan aklaqnya. Innama bu’itstu liutammima makarima al-akhlaq (Sesungguhnya saya diutus di muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia: Hadis Nabi). Secara filosofis tujuan pembelajaran bertujuan membentuk manusia sempurna atau insan kamil (superman).

Kedua, teknis yang salah saat mendidik akan menyebabkan tujuan pembelajaran akan terhambat dan kurang diminati. Pada mata pelajaran Agama mestinya disajikan sesuai dengan materi ajar, fiqih bersifat praktis, Qur’an Hadis prakteknya yakni mencari ayat-ayat dalam al-Qur’an yang terkait dengan kasus atau hukum tajwid. Aqidah Akhlaq, siswa bisa diajak keluar lokal melihat tanda-tanda kebesaran Allah dan pemutaran film yang berkarakter. Sejarah, murid harus berani bercerita. IPA juga bersifat praktis di laboratorium atau di lingkungan sekolah. Matematika dengan cara mengenalkan cara kerja otak kanan untuk berfikir yang kreatif. Kesemua teknis itu harus tetap menginternalisasikan nilai-nilai karakter yang diharapkan. Misalnya, dalam setiap kegiatan pembelajaran khususnya konfirmasi (setelah eksplorasi dan elaborasi) harus dijelaskan karakter yang dicapai. Pelajaran Matematika, bagaimana menghitung yang benar agar tidak korupsi, IPA tujuan karakter yang dicapai memahami gejala-gejala alam sebagai pengenalan kekuasaan Allah, dan IPS karakternya mengenal masyarakat dan lingkungan agar sebagai makhluk sosial bisa mengekspresikan diri dengan baik.

Yang terakhir, administrasi pembelajaran yang membelenggu para guru bisa diatasi dengan adanya pelatihan-pelatihan atau MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) pada sekolah-sekolah yang sederajat. Jadi walaupun kurikulum yang berjalan masih terkesan bongkar-pasang atau trial and error, dari CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) kemudian KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) hingga KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran) sampai berkarakter, sebagai insan pendidik tidak merasa bingung. Pada hakikatnya barangnya hanya itu-itu saja yang berubah pada level kulit dan bahasanya. Jika kekeliruan-kekeliruan ini betul-betul dicari solusinya besar kemungkinan akan terminimalisir dengan sendirinya. Hal ini menunjukkan terjadi dinamisasi dalam pembelajaran. Selama efektif dan efisien perubahannya maka bisa ditolerir.

Editor: Aminpoel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us