CORONA ANTARA IRONI DAN REALITA TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN

Oleh: Samseng Barus, M.Si

(Pengawas Sekolah Madya SMP/SMA/SMK pada

Kantor Kementerian Agama Kota Pekanbaru)

Kini peningkatan terpaparnya manusia sejak hadirnya Covid-19 di Wuhan China pada bulan Desember 2019 terus terjadi dan tak jelas kapan berakhir. Banyak catatan dan fakta informasi yang mengungkapkan bahwa corona  merupakan suatu virus baru yang  mengancam dan merenggut nyawa seorang manusia apabila seseorang positif terjangkiti virus tersebut. Covid-19 ini masih simpang siur metode penyebarannya serta belum ditemukan vaksin atau obatnya.

Data  informasi  pada minggu keempat bulan September 2020, Covid-19 telah merenggut banyak nyawa manusia di Indonesia sebanyak 282,724 kasus dengan 10,601 orang yang meninggal dunia. Secara statistik ini merupakan kenyataan atau realita.

            Secara fenomena tak putus-putusnya penambahan korban Covid-19 hingga hari ini, membuat penulis bertanya-tanya sekaligus mengugat logika publik. Apa memang betul Covid-19 ini tak ada obatnya/vaksinya?  Apa dan mengapa Covid-19 tidak bisa tuntas oleh pihak yang paling  bertanggung jawab atas wabah ini, terutama letak tanggung jawab ini pada badan lembaga PBB yang menanggani kesehatan bernama WHO. Mengapa WHO tidak bisa turun mengantisipasi penyakit ini. Di manakah peran kehebatan  pejuang kesehatan  se-dunia dan negara-negara maju di dalam menuntaskan dan memerangi  penyebaran virus pandemi saat ini ?  Jangan jangan ini sebuah konspirasi global, menurut analisa pikiran dan analisis penulis sendiri.

Lebih jauh kemudian kita juga bisa bertanya, mengapa masyarakat dan para pemimpin bangsa ini tidak ada berpikir kritis, dan bersikap bijaksana dalam menyelamatkan generasi muda milenial khususnya pada dunia pendidikan nasional di tengah serangan wabah corona. Sekarang ini dengan dalih  semakin banyak dan meluasnya penyebaran virus ke wilayah Indonesia, maka semua sekolah dan universitas di tutup atau di larang bertatap muka dengan para peseta didiknya. Dunia pendidikan secara signifikan mengalami stagnasi dan pendangkalan penerusan ilmu pengetahuan secara sistematis.

Bagi penulis sendiri sebagai seorang pengawas sekolah, realita  ini adalah sebuah keniscayaan, sebab  pendidikan akan gemilang jika pembelajaran dilakukan melalui tatap muka. Pendidikan bukan sebuah terminologi di dunia maya tetapi ada di dunia nyata. Pembelajaran yang baik adalah terbangun hubungan antara murid dan guru yang intens – simultan dalam interaksi sosial dan individual di sekolah.    

APAKAH  PENDIDIKAN KITA SEMAKIN MEMANUSIAKAN PADA ERA CORONA?

            Pertanyaan kritis atas judul itu adalah berangkat dari fenomena dan fakta sosial  masa pandemi Covid-19. Kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri, masyrakat dan pemerintah bahwa apakah akibat ke depannya bagi rakyat dan bangsa  Indonesia jika pendidikan seperti saat ini ? Sadarkah, pendidikan bangsa ditutupi oleh berbagai macam syarat-syarat protokol kesehatan yang mengakibatkan dampak lebih besar yaitu, hilangnya satu generasi bangsa (lost generation) mulai dari dari tingkat TK, SD, SMP, SMA dan mahasiswa yang baru masuk pada perguruan tinggi. Pada saat ini. Pertama, penulis mengkritisi apakah pemerintah lebih baik mengambil kebijakan out context bekerja dengan judul: Demi penyelamatan 1 (satu) generasi mudanya Indonesia untuk tetap mengizinkan anak-anak bersekolah tatap muka langsung dengan sang guru atau tega membiarkan pendidikan bangsa  terus terjadi  seperti saat ini? Ujungnya anak-anak generasi bangsa ini akan terprosok jatuh di dalam kebodohan dan kemiskinan yang meluas ! 

            Kedua, pada masa pandemi ini 8 (delapan) standar pendidikan nasional semakin sukar untuk dilaksanakan. Situasi saat ini membawa dampak degradasi mutu atau kualitas pendidikan di masa depan. Hal ini penulis bisa buktikan serta  rasakan bahwa pendidikan nasional yang berlangsung saat ini, bagaikan sayur yang tak bergaram. Tidak utuh, tidak lengkap dan tidak sempurna. Guru tetap dapat melaksanakan pengajaran dengan pembelajaran sistem virtual/online/daring, tetapi kelemahannya ada bahwa pendidikan yang memiliki aspek pendidikan  interaksi, sosial, budaya, moral, etika, tradisi sekolah, dan komunikasi wajah ke wajah langsung tidak terjadi. Hal ini mengakibatkan pendididikan hanya sebatas transfer ilmu pengetahuan guru kepada murid, dan ujung-ujungnya kualitas dari standar mutu kelulusan dipertanyakan ?   

            Ketiga, pendidikan itu jelas pada dasarnya adalah bisa memanusiakan manusia. Manusia pada dasarnya sebagai makhluk sosial dituntut untuk selalu berinteraksi secara sosial. Sekolah sebagai wadah berkumpulnya para siswa dan kampus untuk para mahasiswa dengan para guru/dosen  di masa pandemik Covid-19 tidak terjadi lagi. Pertanyaannya adalah apakah roh pendidikan selain mencerdas anak didiknya, dapatkah memanusiakan manusia para peserta didik kita? Sangat sulit dapat terwujud sekarang ini!

            Terbukti, implikasi sejak terjadinya wabah Covid-19 sampai saat ini tak kunjung berakhir. Pemerintah masih melarang sekolah dan perguruan tinggi melangsungkan kegiatan pendidikan atau pembelajaran langsung tatap muka. Pendidikan disetiap jenjang ditutup atau di lock down, sehingga banyak para peserta didik mengalami kejenuhan karena sepanjang hari berada dan diam di rumah. Bosan dan barangkali sudah ada yang  stress terus belajar di rumah. Gejala percakapan orang tua seperti ini, penulis sering menerima curhat-an ketika beberapa kali berkomunikasi dengan keluarga yang memiliki anak-anak diusia sekolah. Bahkan yang paling menyedihkan, orang tua banyak yang mengeluh, justru semakin repot dan sibuk seperti mesin setrika – bolak balik ke sekolah mengantar buku LKS dan tugas-tugas anaknya kepada guru.  Belum lagi, masalah biaya untuk pendidikan bertambah di rumah. Orang tua harus beli smartphone dan kuota paket internet. Contoh kasuistik seperti ini, menurut pemikiran penulis bahwa pendidikan yang semestinya memanusiakan manusia tidak terjadi di masa pandemi Covid-19. Sangat ironi.

Keempat, dengan sistem pembelajaran daring maka para siswa generasi penerus bangsa belajar dengan sistem non tatap muka, via video call, meeting classroom, WA, telegram, aplikasi zoom, edmodo, dan sebagainya tetap membuat ruang kosong gelap dalam dunia pendidikan kita. Pendidikan kemanusiaan diletakkan kepada dunia maya, dunia virtual dan dunia non fisik. Alangkah sedihnya bangsa dan generasi ini bila sistem  ini terus menerus dilaksanakan. Sebab dimensi sisi kebebasan, kemerdekaan dan dunia anak bermain sebagai kemanusiaan semakin terpinggirkan (ter-alienasi) oleh teknologi tersebut dengan alasan apapun.  

Akhirnya, Pemerintah pun secara kelembagaan saat ini untuk dunia pendidikan terjebak ke dalam sistem dunia global bahwa adanya Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Desease (COVID-19) berisi ketentuan-ketentuan pelaksanaan Proses Belajar Mengajar (PBM ) di rumah melalui pembelajaran Daring/PJJ yang dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna tanpa terbebani oleh tuntutan kurikulum dan untuk kenaikan kelas. Dunia pendidikan serasa ambruk pecah. Tujuan pendidikan untuk mencerdaskan, serta memanusiakan manusia di masa pandemi ini sangat sulit diwujudkan. Pendidikan terpenjara oleh pikiran-pikiran para penentu kebijakan pendidikan bangsa. 

Di balik semua upaya pemerintah sekarang ini, sebagai masyarakat haruslah memiliki kesadaran bahwa  pendidikan itu sangatlah penting demi kelangsungan generasi kita. Pendidikan adalah sebuah sekolah kemanusiaan yang membentuk karakter manusia yang semakin manusiawi. Menghadapi sistem pendidikan sekarang, sebagai orang tua dan para guru seharusnya semakin bijaksana, bertindak dan berpikir kritis. Tantangan zaman sekarang ini berat,  mengingat persaingan global tanpa batas. Konspirasi global dengan kepentingan masing-masing selalu pasti ada. Ibarat pepatah nenek moyang, selalu ada orang memancing di air keruh.

Penulis mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa virus corona bukan untuk ditakuti,  ketakutan berlebihan, apalagi menjadi momok monster di dalam pikiran setiap orang. Jadikanlah virus corona sebagai cara hidup baru dalam memandang kehidupan yang mendatang penuh tantangan optimis. Pakailah masa apapun namanya, dengan hal-hal yang membangun kesehatan pribadi, keluarga dan masyarakat sekeliling anda. Perkuat anti bodi, selalu berpikiran positif, enjoy life, dan banyak beribadah secara pribadi. Tetaplah menggunakan pikiran akal sehat, penuh  kebijaksanaan serta pola hidup sehat !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us