KEDUDUKAN GURU IPS DALAM MENUMBUHKAN RASA CINTA TANAH AIR MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER

WARDANI, S.Pd
MTSN 1 PELALAWAN

Menjawab dan menghadapi tantangan era millenial ini. Pemerintah berusaha untuk mengubah sistem pendidikan di Indonesia, dengan menerapkan pendidikan berbasis karakter. Pendidikan berbasis karakter ini kelak diharapkan mampu untuk menjunjung  nilai-nilai kemanusiaan.bagi peserta didik. Hal ini dilatarbelakangi banyaknya fenomena negatif  saat ini yang terjadi. Fenomena ini dapat kita lihat dan rasakan di kalangan generasi  millenial, yaitu  remaja. Karakter nilai-nilai luhur mereka kini sudah mulai memudar. Untuk itu, pemerintah berupaya mencari solusi untuk menanggulangi fenomena ini. Hal tersebut berdampak besar terhadap perkembangan moral bangsa itu sendiri.

Sebagai langkah dasar  yang harus dilakukan adalah merambah ke dunia pendidikan. Ini  merupakan poin penting untuk memperbaiki hal tersebut. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan ada lima nilai karakter yang seharusnya diterapkan dalam dunia pendidikan yaitu nilai religius, nilai nasionalis, integritas, mandiri dan gotong royong. Demi berlangsungnya sistem pendidikan ini, maka pihak keluarga bekerja sama dengan lembaga pendidikan dalam menempatkan anak mereka di sekolah, agar anak-anak mendapatkan ilmu pengetahuan maupun karakter. Sekolah yang ideal adalah sekolah yang memiliki sifat religius, nasionalis, integritas, mandiri dan gotong royong sehingga setiap anak yang terdidik dapat ikut andil dalam mencapai tujuan nasional bangsa sesuai yang diterdapat dalam UUD 1945 alinea keempat.

Salah satu alternatif yang dibutuhkan dalam meningkatkan mutu karaker dan moral bangsa adalah melaalui pendidikan, karena pendidikanlah pondasi dasar untuk mengubah pola pikir, dan sikap secara tidak langsung. Sedari dini apa yang didapat sang anak akan mereka terapkan dalam kehidupan hingga mereka dewasa. Sangat perlu memperhatikan pendidikan anak sedari dini Karena mereka yang akan menjadi pemimpin negeri ini di masa depan nantinya.  Remaja  merupakan tolak ukur dalam menentukan kemajuan bangsa di masa depan. Generasi inilah yang akan memegang kendali dalam mengisi kemerdekaan ini. Sebab warisan ini dititipkan oleh para pejuang terdahulu kepada generasi muda Indoensaia. Itulah sebabnya pendidikan harus membawa mereka kepada rasa cinta dan bangga kepada tanah air. Namun melihat kondisi mental siswa yang kian memburuk saat ini, sangat diragukan bahwa mereka memiliki rasa cinta tanah air yang memiliki rasa nasionalisme yang kokoh.

Belajar dari berbagai kasus ditemukan saat ini. Masih banyak sesuatu yang kurang dalam sistem dunia pendidikan, salah satunya terkait dengan pengembangan karakter. Pernah diadakan beberapa pelatihan yang singkat dan instan di sekolah-sekolah untuk membangun karakter peserta didik, tetapi hal itu dirasa tidak cukup memadai.

Jika ditelaah dari sudut pandang guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), pendidikan yang terlaksana sampai saat ini sangat memperhatikan pembentukan karakter siswa. Sejak periode jabatan Jokowi pun, pembentukan karakter menjadi salah satu fokus pembangunan sumber daya manusia yang disebut revolusi mental. Pendidikan tentu merupakan salah satu faktor terbesar yang menentukan keberhasilan pembangunan karakter anak. Tetapi siapa sangka, sekolah juga memberikan fakta mengejutkan mengenai kemerosotan karakter anak.

Di sekolah masih terdapat tindakan bullying dan kekerasan masih banyak dilakukan di lingkungan sekolah. Salah satu kasus bullying yang pernah terjadi adalah seorang siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 16 Kota Malang, Jawa Timur, akibat bullying jari tengah  korban sampai harus diamputasi. Di Kota Pekanbaru di salah satu SMA, juga terdapat kasus yang melanda korban yang berinisial FA  mengalami patah tulang hidung. Menurut pengakuan korban, ia dibully oleh teman-temanya di sekolah, selama lima bulan sekolah di sana uang jajannya dirampas dan diancam supaya tidak mengadu ke orang tuanya, dan korban dipaksa mengaku jatuh.

Kemudian ada lagi kasus di SD Negeri di Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan berinisial RS mengalami depresi berat usai diduga menjadi korban bullying oleh teman-temannya. Juga  kekerasan antar guru dengan siswa yaitu guru menampar hingga menendang siswa SMP di daerah NTT serta ada juga kasus kekerasan antara murid dengan guru yakni murid melakukan rundungan pada gurunya di Gresik dengan mendorong dan mengarahkan tangannya yang terkepal ke arah guru serta mengeluarkan kata-kata kotor dan merokok di hadapan guru. Selain itu kekerasan seksual terjadi dalam sekolah. Hal di atas merupakan beberapa contoh kecil yang mencerninkan betapa buruknya karakter remaja saat ini. Saat ini kejahatan yang dulu hanya didengar di media televisi dan itu jarang terjadi di daera hanya terjadi di kota-kota besar, namun saat ini kejadian tersebut dapat ditemukan juga di daerah-daerah dan marak terjadi. Beberapa kasus yang terjadi tersebut begitu miris mengingat bahwa sekolah merupakan tempat yang kerap di anggap aman dan  di segani siswa.

Saat ini memang berada dalam era revolusi yang tidak bisa jauh dari teknologi dan komunikasi yang menggunakan sistem yang kian modern setiap harinya. Hal ini juga mempengaruhi dunia pendidikan yang saat ini 90% menggunakan teknologi. Situasi pandemi covid-19 yang mengharuskan sistem pendidikan berbasis online, melalui berbagai macam aplikasi yang begitu berinovasi dan beragam demi kelancaran pendidikan yang harus sampai ke siswa itu sendiri, semakin memburamkan penilaian karakter itu sendiri di mata pendidik yaitu guru. Dengan berbagai kemajuan teknologi yang ditawarkan, ada hal yang paling penting untuk diperhatikan. Merosotnya pengenalan jati diri guru maupun siswa. Pertama, guru. Guru bukan hanya sekedar profesi, tetapi juga sebagai fasilitator, teknisi, pengrajin dan metafora lainnya. Namun yang perlu dipahami adalah menjadi seorang guru adalah menjadi seorang pelayan, iman dan penuntun.

Koswara menyatakan bahwa Guru memegang peranan strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan. Dari dimensi tersebut, peranan guru sulit digantikan oleh yang lain. Maka dari itu alangkah baiknya dan seharusnya guru memiliki sikap dan sifat yang baik agar para siswa yang diajarnya dapat meniru dan mencontoh perilaku-perilaku baik tersebut. Dengan kata lain guru harus memiliki kualitas yang baik untuk menjadikan pendidikan lebih bermutu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us