MENYELAMATKAN PONDASI DASAR PENDIDIKAN: DAMPAK COVID-19 PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

KHAMIM, S.Ag

(Guru Muda pada MTsN 1 Pekanbaru)

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dan kreatif dapat mengembangkan potensi dirinya diantaranya: spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya (Hernawati, 2015). Pendidikan anak usia dini adalah proses memberikan stimulus kepada anak usia 0-6 tahun, agar dapat mengembangkan potensi dalam dirinya secara optimal diantaranya: motorik, kognitif, sosial, dan spiritualnya (Nadlifah, 2019). Pendidikan anak usia dini harus juga disesuaikan dengan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga dan lingkungannya (Windisyah Putra, 2012).

Pendidikan adalah merupakan aset penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Oleh karena itu setiap warga negara harus dan wajib mengikuti jenjang pendidikan, baik jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi. Kebanyakan anak-anak Indonesia dalam memulai proses masuk ke lembaga pendidikan, mengabaikan pendidikan anak usia dini, padahal untuk membiasakan diri dan mengembangkan pola pikir anak pendidikan sejak usia dini mutlak diperlukan.

Usia dini merupakan masa yang paling baik untuk meletakan dasar yang kokoh bagi perkembangan mental – emosional dan potensi otak anak yang akan mempengaruhi kejiwaan anak. Teori dan penelitian Daniel Goleman tentang kecerdasan emosi (Emotional Intelligence/EQ), mengingatkan bahwa keberhasilan hidup manusia tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan intelektual (IQ) seperti yang dipahami sebelumnya, tetapi justru ditentukan oleh emotional intelligence. Kecerdasan emosi ini sangat terkait dengan belahan otak kanan

Di saat pandemi COVID-19 ini, orang tua memiliki kesempatan dalam menanamkan nilai-nilai karakter dan nilai-nilai kehidupan bagi putra-putri dalam aktivitas seperti tadarusan, tarawih bersama, bersih-bersih, mencuci, memasak dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Sesuatu yang sangat mengkhawatirkan saat ini adalah jauhnya keterlibatan  putra putri dalam pekerjaan  rumah tangga. Hal ini terjadi karena tugas-tugas kerumahtanggaan dikerjakan oleh asisten rumah tangga  sehingga kurang mendapatkan perhatian orang tua dalam mendidik putra putrinya. Padahal keterampilan kerumahtanggan sangat diperlukan dalam mengasuh dan mendidik anak usia dini.

Pendidikan bagi anak usia dini adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan anak. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan,, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spititual.

Kondisi saat ini dengan adanya wabah covid-19, guru tidak dapat bertatap muka dengan peserta didik. Tantangan dan ujian bagi kelangsungan proses pembelajaran PAUD, apalagi peserta didik belum dapat mengoperasikan HP Android untuk berkomunikasi dengan guru. Proses pembelajaran selama ini yang berlangsung pada PAUD berlangsung dengan penuh kegembiraan, keakraban, kasih sayang, dan berbagai keharmonisan lainnya, lenyap ditelan wabah COVID-19.

Berdasarkan pengamatan penulis proses pembelajaran PAUD pada tahun pelajaran 2019/2020 dan awal tahun pembelajaran 2020/2021 praktis tidak dapat berlangsung. Kita sangat prihatin menyikapi kondisi wabah COVID-19 yang sedemikian dasyatnya sehingga proses pembelajaran PAUD yang semestinya tatap muka antara guru dengan peserta didik tetapi tidak dapat berlangsung.

Kondisi seperti ini diharapkan para orang tua tanggap untuk bisa mendidik, membimbing, dan mengarahkan pembelajaran secara mandiri di rumah masing-masing. Para orang tua harus segera berkomunikasi dengan guru agar dapat mengganti peran guru dalam aktivitas pembelajaran di rumah. Tentu hal ini tidak mudah tetapi paling tidak orang tua dapat mengisi aktivitas anak-anak mereka dengan hal yang positif, mengacu standar pembelajaran yang berlangsung di PAUD. Tanpa adanya komunikasi dengan guru, orang tua akan mendapatkan kesulitan dalam mendidik, melatih, dan mengarahkan anak-anak mereka. Apalagi kepedulian orang tua yang kurang intens karena selama ini menyerahkan sepenuhnya kepada guru di sekolah.

Tujuan diselenggarakan pendidikan TK/RA adalah: (1) membangun landasan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkepribadian luhur, sehat, berilmu, cakap, kritis, inovatif, mandiri, percaya diri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan tanggung jawab; (2) mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, kinestetis, dan sosial pada masa usia emas pertumbuhan lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan; dan (3) membantu peserta didik mengembangkan berbagai potensi psihis dan fisik yang meliputi akhlakul karimah, sosio-emosional, kemandirian, kognitif, dan fisik/motorik agar siap memasuki pendidikan dasar.

Periode emas bagi perkembangan anak adalah dimaksudkan untuk memperoleh proses pendidikan, dan periode ini adalah tahun-tahun yang sangat berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannnya sebagai stimulus terhadap perkembangan kepribadian , psikomotor, kognitif maupun sosialnya.

Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode ini merupakan periode kritis bagi anak, di mana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewatkan berarti habislah peluangnya.

Untuk itu pendidikan anak usia dini seharusnya memberikan rangsangan (stimulasi) dari lingkungan terdekat adalah sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak. Pemerintah dalam hal ini jangan sekai-kali melakukan pendekatan yang sangat diskriminatif terutama dalam pengambilan kebijakan terhadap PAUD (baik PAUD formal, non formal maupun informal) terutama pada pos PAUD, karena UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tidak mengenal istilah pos PAUD (secara tersurat), sekali lagi pemerintah tidak boleh berlaku deskriminatif.

Pada lembaga pendidikan anak usia dini, kini sudah mengajarkan anak tentang dasar-dasar dalam cara belajar. Di usianya yang masih sangat dini tersebut, anak akan diperkenalkan terlebih dahulu pada sebuah fondasi. Mereka akan mengetahui semuanya sedikit demi sedikit melalui apa yang mereka lihat dan pelajari. Dengan mereka bermain akan diajarkan bagaimana cara yang tepat dalam bersosialisasi, mengatur waktu dan yang terpenting bisa menguasai 1-3 bahasa.

Tantangan terberat bagi para orang tua dengan kondisi merebahnya COVID-19 tentunya mempengaruhi penurunan kemampuan ekonomi mereka. Hal tersebut dapat mempengaruhi sikap dan perilaku orang tua dalam mengawasi, membimbing, melatih, serta memberikan perhatian terhadap anak-anak mereka. Dinamika yang melanda utamanya para orang tua dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah dengan adanya pandemi COVID-19 ini, sangat sulit bertahan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya.  Kondisi yang demikian menjadi keprihatinan kita semua, semoga  para anak usia emas sebagai bagian dari gererasi penerus tetap dapat tumbuh dan berkembang sebagai modal dan aset bangsa dalam pembangunan di masa mendatang. Pendidikan anak usia dini yang orang tua berikan bagi anak merupakan suatu persiapan kematangan anak dalam menghadapi masa demi masa untuk perkembangannya di masa yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us