PERANAN MASA ORIENTASI SISWA DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Oleh: Kadri
MTsN 1 Pelalawan

Setiap kali tahun pelajaran baru dimulai, siswa dan orangtua sibuk dengan persiapan menyambut sekolah baru yang akan dimasukinya. Tidak hanya mempersiapkan dana untuk pendidikan yang lebih lanjut, para orangtua juga terkadang direpotkan oleh permintaan yang aneh-aneh untuk persiapan kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS). Di kalangan masyarakat terjadi pro dan kontra terkait penyelenggaraan MOS di Indonesia. Sebagian dari masyarakat berpendapat bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melatih mental dan membuat siswa akrab dengan lingkungan sekolah.

Sementara sebagian yang lain menganggap bahwa MOS tidak perlu dilaksanakan. Hal ini disebabkan banyaknya terjadi kekerasan dan perilaku yang tidak mendidik pada saat MOS. Misalnya, mendandani para peserta dengan pernak-pernik yang tidak biasa. MOS juga menjadi ajang bagi para senior untuk berbuat semaunya kepada para junior. Para senior tersebut merasa punya hak menghardik dan mempermalukan peserta MOS yang baru pertama masuk ke lingkungan sekolah. Di beberapa kasus, terjadi perpeloncoan hingga menghilangkan nyawa seseorang.

Kekerasan di IPDN, sekolah dan kampus lainnya menjadi catatan hitam dari pelaksanaan MOS. Pada dasarnya, MOS bertujuan mendidik dan memperkenalkan dunia baru dalam sekolah baru kepada siswa baru. Perkenalan dan pendidikan ini merupakan program awal pembelajaran di sekolah, tetapi kebanyakan  dilaksanakan  oleh para siswa lama yang masih berstatus pelajar di sekolah tersebut. Anggota OSIS sebagai bagian dari pelaksana kegiatan MOS sudah barang tentu mendapatkan kepercayaan dan ijin dari pihak sekolah.

Namun sangat disayangkan, kegiatan ini seringkali menjadi ajang balas dendam siswa lama yang telah terlebih dahulu mendapatkan perilaku serupa selama menjalani masa orientasi siswa sebagai siswa baru. Perlakuan negatif terhadap para siswa baru ini sudah selayaknya ditinggalkan. apalagi sebagai lingkungan pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU. Nomor 20 Tahun 2003) memanusiakan manusia, sekolah mesti mengedepankan norma agama, etika, pendidikan dan teladan dalam melaksanakan MOS tersebut.

Jika pelaksana MOS ini ingin dihargai, dihormati, dan dikenal oleh baik siswa baru, bukankah seharusnya mereka berperilaku yang sopan dan bermoral, memberikan contoh teladan yang baik, mengadakan acara yang berkualitas, yang berasaskan pada agama, etika, pendidikan dan teladan. Acara MOS seharusnya  berisikan pembekalan materi yang berguna untuk mendidik kepribadian mereka kearah yang lebih baik. Misalnya, pemberian ceramah rohani, muhasabah, pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, peraturan baris berbaris bahaya rokok dan narkoba atau ceramah motivasi, layaknya seminar-seminar dikalangan kaum terpelajar.

Agar materi MOS berkualitas dan menarik, panitia mesti bekerja sama dengan instansi terkait. Misalnya ceramah rohani dan muhasabah bisa dilakukan dengan mengundang tokoh agama, ustaz yang dapat memberikan materi dan motivasi keagamaan terhadap siswa. Untuk pemateri perilaku hidup bersih dan sehat, pihak sekolah bisa mengundang narasumber dari instansi kesehatan, dokter, dokter atau petugas puskesmas. Peraturan baris berbaris bisa bekerja sama dengan pihak kepolisian atau koramil. Materi tentang bahaya rokok dan narkoba dapat bekerja sama dengan pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) kabupaten atau provinsi dan kepolisian.

Di samping itu, MOS juga seharusnya sebagai wadah bagi pendidik dan panitia untuk mengenalkan lingkungan dan program sekolah kepada siswa baru. Misalnya, visi dan misi sekolah, program unggulan sekolah, motto, peraturan, kode etik dan sanksi pelanggaran aturan sekolah, kurikulum, ekstrakurikuler, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana serta prestasi yang pernah diraih oleh sekolah tersebut. Pengembangan minat dan bakat peserta didik baru juga sebaiknya diberi apresiasi lebih pada kegiatan MOS. Misalnya, seleksi atau lomba di bidang akademik dan non akademik antar sesama peserta MOS.

Program seperti ini berguna mengasah kemampuan mereka, baik pada aspek akademik maupun aspek non akademik. Marilah selayaknya dengan besar hati kita membentuk  sekolah berkarakter dimulai dari kegiatan MOS. Kegiatan awal sekolah untuk membangun citra dan kesan yang baik di kalangan masyarakat. Sekolah tidak hanya memiliki catatan bagus dalam bidang pendidikan, tetapi juga dalam cara pembentukkan akhlak dan perilaku para siswa dan masyarakat sekolah tersebut. Dengan demikian, kesan cerdas terintegrasi dengan perilaku dan sistem pendidikan yang lebih bermoral dikalangan para peserta didik.

Salah satu cara yang dapat diterapkan untuk merealisasikan hal ini adalah dengan pelarangan kekerasan bagi seluruh warga sekolah, baik berupa fisik maupun mental. Kegiatan MOS harus bersifat edukatif, normatif dan menyenangkan sebagai bentuk implementasi kecerdasan dan moral yang berkarakter dan bermartabat tinggi. Jika hal ini sudah terwujud, maka MOS tidak hanya sekedar sebuah rutinitas awal tahun pelajaran tetapi merupakan kegiatan penting yang sangat dibutuhkan pihak sekolah dan orangtua dalam membentuk karakter siswa.

Editor: Atikah Hermansyah, M.Pd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us