BELAJAR DI TENGAH PANDEMI COVID-19: ORANG TUA BERKELUH KESAH

SYASRI YENNI, S.Pd.I.,M.Pd

(Guru MTsN 9 Kampar)

Sebagai orangtua pada saat ini, saya dan suami merasakan mendapatkan tanggung jawab yang sangat besar untuk mendampingi anak kami belajar dari rumah. Sementara kami dan sebagian orangtua lainnya merasakan bahwa tidak mudah untuk memberikan penjelasan berbagai macam mata pelajaran dalam mendampingi anak-anak dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh para gurunya seperti yang dikemukakan oleh salah satu orang tua yang dilansir pada halaman Tribun Mataram.com “Kebanyakan tugasnya. Kadang HP saya nge-hang tugasnya juga macam-macam” Kompas.com pada jumat (27/3/2020). Begitu juga sebaliknya pekerjaan dan usaha para guru dalam menyampaikan pendidikan kepada anak didiknya di tengah masa pandemi COVID-19 ini juga harus sangat patut diberi apresiasi.  Namun di tengah pembatasan sosial akibat wabah COVID-19, kita harus tetap  memberikan semangat kepada seluruh pengampu pendidikan dan peserta didik  dalam mengejar dan menuntut ilmu pengetahuan. Kita tak pernah membayangkan wajah pendidikan bisa berubah drastis akibat pandemi COVID-19. Semula kita tidak pernah menjadikan arus utama  konsep sekolah di rumah (home schooling) dalam wacana pendidikan nasional. Namun hal ini untuk saat ini menjadi salah satu solusi utama dalam pembelajaran adalah penerapan pembelajaran online (online learning) yang dulunya hanya pada level pendidikan tinggi namun saat ini juga berlaku untuk anak mulai dari sekolah dasar sampai menengah atas.

Di sini muncul berbagai permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran online yang membutuhkan fasilitas juga biaya sementara kenyataannya tidak semua para orang tua bisa melaksanakan dan mengadakan fasilitas untuk pembelajaran online tersebut. Tantangan selanjutnya sistem pendidikan online ini pun tidak mudah terkait masalah kedisiplinan seseorang ataupun kedisiplinan secara bersama. Saya bersyukur masih mampu memfasilitasi anak kami untuk pendidikan jarak jauh, tapi saya mendengar keluhan banyak orangtua murid dan juga tenaga pendidik yang kesulitan, baik dalam menyediakan perangkat/ sarana belajar seperti gawai (smartphone) dan laptop maupun paket data untuk koneksi internet. Secara tidak langsung, hal ini menimbulkan kesenjangan sosial ekonomi. Kita tahu semenjak pandemi COVID-19 ini telah banyak terjadi perubahan status ekonomi masyarakat, ada yang di rumahkan dan macetnya roda perekonomian yang dirasakan oleh sebagian orangtua siswa. Kemenaker mencatat sudah lebih dari 2 juta buruh dan pekerja formal maupun informal yang di rumahkan atau diPHK. Dengan kondisi seperti ini, banyak orangtua kesulitan menyediakan kesempatan pendidikan yang optimal bagi anak-anak mereka. Dalam situasi yang lebih buruk, orangtua malah bisa berhadapan pada pilihan dilematis: memberi makan keluarga atau membiayai pendidikan anak. Ini berpotensi membuat angka putus sekolah meningkat. Sejak kebijakan belajar dari rumah diterapkan secara nasional mulai tanggal 16 Maret 2020, muncul indikasi naiknya angka putus sekolah di berbagai tempat.

Menanggapi pembelajaran online/Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), para orang tua mengatakan bahwa keterbatasan fasilitas pendukung hingga ketidaksiapan siswa belajar di rumah, membuat sistem itu “belum efektif”- keadaan yang mengakibatkan capaian akademik siswa “tertinggal”, menurut seorang pengamat pendidikan. Ada orangtua siswa yang berharap anaknya segera kembali ke sekolah, tapi ada juga yang tidak sepakat kegiatan belajar secara tatap muka diberlakukan karena alasan kesehatan. Sementara, pemerintah meminta pihak terkait memanfaatkan fasilitas yang ada untuk mengoptimalkan PJJ.  Misal dengan penggunaan media TVRI, group Whatsapp dan lain lain. Namun tetap juga terjadi kendala yang dihadapi yakni tidak semua orang tua memiliki fasilitas internet dan bisa mengakses siaran TVRI terutama bagi mereka yang tinggal di desa yang termasuk sulit jaringan telekomunikasi.

Salah seorang guru MTsN di Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar Riau, Ilyas, S.Pd mengatakan: “selama siswa tidak belajar ke sekolah anak-anak bukan belajar di rumah melainkan mereka bermain  ada yang ke sawah ke kebun membantu orang tua masing masing, bahkan ada yang bekerja mencari uang untuk keperluannya.” Beliau berpendapat “jika kondisi anak juga tidak berada di rumah ada baiknya sekolah seperti biasa karena jika dilihat kondisi sekolah kami tidak termasuk zona merah. Sekolah bisa dilaksanakan dengan protokol pencegahan COVID-19, seperti menjaga jarak menyediakan sarana cuci tangan dan pengukur suhu tubuh. “

Selain keterbatasan fasilitas, sistem PJJ juga dinilai belum efektif karena ketidaksiapan siswa belajar di rumah. Sementara Rian, orangtua siswa kelas IX dari Desa Terantang, menceritakan apa yang diamatinya. “Berantakan (cara belajarnya). Ya (anak) berpikirnya main saja. Yang jelas, anaknya nggak siap untuk belajar di rumah. Kalau ujian yang jawab malah ibunya. Saat ujian, minta (jawaban) di Google, jadi nggak murni itu.” Beliau mengatakan bahwa tak masalah jika anaknya kembali bersekolah, asal protokol jaga jarak aman bisa dijalankan.

Namun sikap orang tua murid lain, seperti Anto wali murid kelas VIII  berbeda pula. “Pilihannya itu utamakan keselamatan anak atau anak bodoh. Kasarnya begitu. Kalau kita disuruh pilih, ya pilih anak selamat dong,” ujar Anto, ayah dua anak laki-laki yang duduk di bangku MTsN 9 kelas VII dan VIII itu. Ia mengatakan juga tak keberatan jika generasi pelajar saat ini, yang terdampak COVID-19, diminta mengulangi pelajaran yang tidak bisa mereka terima saat pandemi di kemudian hari. “Karena mereka benar-benar missed (ketinggalan) pelajaran. Takutnya mereka dipaksain naik (kelas), tapi tidak mampu, ada yang kelewat silabusnya,” ujarnya.

Jika dilihat dari hasil prestasi siswa, para orangtua juga meragukan akan nilai siswa yang diberikan guru karena para orangtua merasakan bahwa dari sedemikian banyak tugas yang diberikan oleh para guru sebagian besar para orang tualah yang mengerjakan bahkan para orangtua menanyakan kepada koleganya untuk mencari jawaban tugas anaknya. Hal ini menimbulkan ketidakadilan bagi siswa yang memang benar-benar mengerjakan dengan kemampuannya sementara jerih payahnya tak dihargai sepadan oleh guru yang hanya melihat kebenaran jawaban yang dia terima.

Intinya belajar di saat kondiisi COVID-19 saat ini malah menimbulkan kebingungan yang tak mudah untuk dijawab. Tidak ada suatu kepastian yang jelas sampai kapan semua ini akan berakhir? Anak didik bertanya kapan kami akan sekolah lagi seperti dulu?  Namun tak ada yang bisa menjawab secara pasti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us