IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN DARING DI ERA PANDEMI COVID-19

Oleh : Dra. Hj. Azizah

(Guru Madya pada MTsN 4 Kampar)

Dari kota Wuhan Cina, virus mematikan menyebar hampir ke seluruh negara di dunia, tercatat yang paling banyak korban meninggal dan juga terinfeksi virus yang dikenal dengan nama Coronavirus Desease 2019 (COVID-19) ini, adalah negara Italia, Spanyol, Iran, Amerika, dll., Cepatnya penularan dan sulit terdeteksinya penularan ini sehingga dengan cepat menyerang manusia, akibatnya korbanpun berjatuhan dan banyak yang meninggal dunia.

Terjadinya kontak langsung dengan pasien, menimbulkan terjadinya penyebaran dengan cepat, kurangnya alat pelindung diri atau dikenal dengan nama APD menjadi penyebab lain dari banyaknya tenaga medis yang meninggal dunia. Penyebaran virus corona terjadi melalui kontak langsung dengan pasien, obat penawar yang masih belum ditemukan oleh para ahli, sehingga mempersulit penghentian penyebaran virus ini.

Sulitnya penanganan virus corona, sehingga banyak pemimpin negara menentukan langah-langkah dalam menghentikan penyebarannya bahkan harus menentukan kebijakan yang sangat sulit, tetapi harus dilakukan oleh pemerintahan di masing masing negara. Salah satu kebijakan yang sangat berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan tersebut yaitu pembatasan interaksi sosial, di mana pembatasan ini tentu akan berpengaruh besar tehadap laju perekonomian, tersendatnya kebutuhan utama masyarakat, menimbulkan efek banyaknya perusahaan yang pekerjanya dirumahkan sehingga otomatis terjadinya pengangguran. Dengan tingkat kebutuhan ekonomi yang tinggi tetapi penghasil yang tidak ada, tidak mungkin negara membayar semua kebutuhan masyarakatnya yang begitu banyak seperti Indonesia.

Di bidang pendidikan juga terdampak yang sangat besar, sebab demi menghentikan penyebaran virus corona ini, semua siswa dan guru melakukan proses belajar mengajar dari rumah, yang mendadak dilakukan tanpa persiapan sama sekali. Ketidaksiapan semua unsur dalam pendidikan menjadi kendala yang besar juga. Adanya perubahan cara belajar mengajar dari tatap muka atau luring (luar jaringan) menjadi daring (dalam jaringan) membutuhkan kesiapan dari semua unsur, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, siswa dan orang tua, diakui memang pemerintah melonggarkan sistem penilaian pendidikan disesuaikan dengan keadaan darurat asalkan pembelajaran tetap dapat berlangsung tanpa harus dibebani dengan pencapaian kompetensi. Sehingga banyak para guru melakukan pembelajaran daring dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

Menurut Prof. Dr. Ir. R. Eko Indrajit (akademisi, pakar teknologi informasi, Direktur PGRI SLCC) bahwa ada empat “aktor” yang memiliki peran masing-masing, yakni orang tua, siswa, guru dan masyarakat. Sedangkan untuk strategi di masa mendatang, Eko menyebut bahwa ada lima hal yang bisa dilakukan oleh sekolah, yaitu:

  1. Lakukan peninjauan kembali terhadap target pembelajaran yang ingin dicapai, agar secara rasional selaras dengan situasi dan kondisi baru dalam new normal.
  2. Identifikasi sumber daya yang perlu dimiliki dan diadakan agar tujuan baru yang telah ditetapkan tersebut dapat dicapai dengan ketersediaan sumber daya yang ada.
  3. Petakan situasi dan kondisi masing-masing guru dan siswa yang harus bersiap-siap melakukan model pembelajaran baru berbasis blended learning sebagaimana dirancang
  4. Kajilah gap antara kebutuhan dan ketersediaan untuk menyusun langkah-langkah strategis dan operasional yang perlu segera dilakukan untuk menjembataninya.
  5. Eksekusi langkah-langkah tersebut secara kreatif dan inovatif dengan menjalin berbagai kemitraan dengan pihak-pihak eksternal yang peduli mengenai pendidikan.

Di Negara kita Indonesia mulai tanggal 16 Maret 2020 di saat peserta didik kelas IX Tahun Pelajaran 2020/2021 mau mengikuti Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional Berbasis Komputer (UAMBNBK), penulis sebagai panitia dikagetkan dengan tidak dilaksanakan ujian tersebut, sementara persiapannya sudah optimal, begitu juga Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), semuanya tidak terlaksana. Setelah waktu berjalan maka diiringi lagi dengan belajar untuk kelas VII dan VIII. Maka sebagai guru kami masih meraba-raba bagaimana untuk menjalankan pembelajaran semasa COVID-19. Pada waktu itu keluarlah petunjuk teknis kelulusan, ternyata peserta didik diluluskan seluruhnya.

Semua aktifitas pembelajaran kocar-kacir, terlebih daerah penulis adalah daerah pedesaan. Pembelajaran yang akan dilaksanakan masih bertanya-tanya bagaimana caranya, maka waktu itu pembelajaran dilaksanakan dengan pemberian tugas bagi anak yang terjangkau oleh Whatsapp (WA). Pimpinan Madrasah pun tidak memberatkan guru dan peserta didik untuk mencapai KD dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran waktu itu, juga diperingatkan untuk mengambil nilai tidak mengaitkan dengan COVID-19. Sekarang tibalah saatnya sidang kenaikan kelas, maka keputusan rapat juga menaikkan peserta didik untuk naik kelas seluruhnya kecuali anak yang memang tatap mukanya tidak memenuhi kriteria kenaikkan kelas. Setelah rapor dibagikan, masuklah ke waktu libur, setelah libur, datanglah waktu tahun pelajaran baru, maka di saat inilah petunjuk teknis pembelajaran keluar satu persatu mulai dari awalnya mau tatap muka yang dibagi pakai sesi, jarak lebih kurang 1 meter, isi rombel 50% dari yang normal sampai ke petunjuk teknis masa darurat yang belajarnya di rumah, di sinilah banyak kendala yang ditemukan mulai dari peserta didiknya, sampai kepada gurunya. Setelah selesai daftar pembelajaran dibuat wakil kurikulum, guru bersemangat untuk mengajar daring dan/atau luring dengan berbagai model pembelajaran yang sudah disajikan pada juknis. Dengan keterbatasan jaringan yang disediakan gratis oleh pemerintah, penggunaan aplikasi pendidikan madrasah seperti e-learning, tidak bisa dipakai karena banyaknya yang mengakses aplikasi pembelajaran tersebut dan aplikasi yang lain penulis pun belum bisa menerapkan pembelajaran dengan seperti google class room, Zoom dan lain-lain. Jadi kendala bagi guru yang daerahnya jauh dari jangkauan internet, kemudian aplikasi pembelajaran masih baru, guru merasa kesulitan untuk memberikan ilmu kepada peserta didiknya.

Untuk itu penulis berharap kepada yang terkait untuk lebih memperhatikan keberlangsungan dunia pendidikan ini, sehingga apa yang akan terjadi ke depannya bisa diantisipasi sehingga proses pendidikan ini berjalan dengan baik. Di masa pandemi COVID-19 ini, apakah dengan pembelajaran daring ini dapat mencerdaskan peserta didik atau malah sebaliknya hanya untuk memperbodoh peserta didik. Banyak orang tua wali murid yang mengeluh, apa akhirnya anak kami ke depannya. Sedangkan di tatap muka pun, anak kami susah mengertinya apalagi hanya lewat WA yang dikirim setiap hari kepada anak kami, dan kami pun tidak mengerti pelajarannya, seperti matematika apalagi Bahasa Inggris. Belum lagi keluhan masalah biaya kuota internet (paket data), sedangkan ekonomi pedesaan hanya bergantung pada pokok karet, sawit, batu kali, dan sawah. Yang semua itu tidak menunjang kepada pendapatan orang tua peserta didik. Jadi ada orang tua peserta didik mengusulkan agar pembelajaran daring ini dihentikan saja, karena menurutnya hanya untuk memperbodoh anaknya, bagus anak kami ke madrasah lagi dari pada anak kami belajarnya di rumah. Tetapi pendidikan di Indonesia ini di atur oleh pemerintah, daerah yang zonanya masih merah atau kuning dan oranye maka ditetapkan pembelajarannya secara daring. Semua stakeholder pendidikan tinggal menjalankan dan mengikuti prosedur yang sudah ada. Inilah yang akan kita jadikan pengalaman berharga dan sebagai momentum bagi kita sebagai makhluk hidup (manusia), segala sesuatu ke depannya tidak bisa kita persiapkan. Kita hanya berencana, Allah lah yang menentukan. Walaupun di era pandemi COVID-19 banyak kendala tetapi juga banyak hikmahnya. Seperti penulis yang dulunya kesulitan menggunakan pembelajaran yang memakai teknologi berbasis internet, tetapi sekarang sudah mulai terbiasa. Oleh karena itu syukurilah segala takdir yang diberikan Allah. Jadikan sebagai pengalaman terbaik untuk menginsafi segala kelemahan dan kekurangan untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us