KEGALAUAN MASA PENDEMI

Oleh: Masnely Warni, M.Sc
Guru MAN 1 Kota Dumai

Corona oh corona kehadiran mu sangatlah meresahkan, memisahkan jarak, pertemuan hanya melalui video call, tidak ada sentuhan keakraban senyum pun sudah tak tampak, yang tampak hanya mata karena semua orang diwajibkan untuk menutup hidung dan mulut serta di rumah saja. Semua kegiatan dilakukan di rumah baik itu pekerjaan kantor, perkulihan maupun sekolah dilakukan secara virtual atau PJJ (pembelajaran jarak jauh).

Corona sejenis virus yang secara bentuk menyerupai virus flu. Corona pertama kali ditemukan di cina pada tanggal 31 Agustus 2019 tepatnya di kota Wuhan dan mulai mewabah pada bulan November 2019. Corona masuk ke Indonesia pada bula Februari 2020, mulai mewabah pada bulan Maret 2020, sampai sekarang  kasus virus corona terus meningkat.

Pada masa pandemi corona ini sangatlah berat sekali rasanya,tidak seperti dulu, kita dapat berjumpa dengan teman-teman,namun saat pendemi ini berlangsung semua hanya bisa bertemu dengan video call,pembalajaran pun tergangu, sekolah mengadakan PJJ (pembelajaran jarak jauh). Penbelajaran jarak jauh bagi daerah perkotaan tidak menimbulkan masalah yang berarti, tapi bagi daerah pelosok pembelajaran jarak jauh sangan bemasalah karena susahnya sinyal internet.

Saya ingin berbagi cerita selama pandemi sehingga sekolah pun harus melaksanakan PJJ. Saya seorang guru yang mengajar di salah satu madrasah di propinsi Riau tepatnya di kota Dumai. Seperti kita ketahui siswa yang masuk ke madrasah apalagi madrasah yang ada di daerah rata-rata memiliki kemampuan menegah kebawah baik secara IQ maupun secara ekonomi.

Pelaksanan pembelajaran secara PJJ memiliki efek positif dan negatif, apapun langkah yang diambil selama pendemi ini pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya. Di sini saya akan mengulas sisi positifnya terlebih dahulu, dari segi positifnya dapat kita lihat guru yang selama ini gaptek atau gagap teknologi mau tidak mau harus melek teknologi walaupun dengan segala keluh kesah yang mereka hadapi, guru yang selama ini tidak tau apa yang namanya pembelajaran virtual, zoom meeting, google classroom, e-learning dan segala macam aplikasi pembelajaran lainya dengan sangat terpaksa harus pempelajari dan harus menggunakan itu semua untuk proses pembelajaran. Dengan demiakian guru di tempat saya mengajar secara keseluruhan baik yang masih muda maupun yang tinggal menunggu masa pensiun menjadi melek teknologi yang tadinya menggunakan laptop hanya untuk mengetik soal ujian di word sekarang sudah bias berselancar di internet mencari berbagai informasi untuk bahan ajar atau untuk melaksanakan pembelajaran virtual.

Pada pembelajaran normal tatap muka guru harus mengelilingi kelas untuk memantau keaktifan siswa selama proses pembelajar. Dengan PJJ guru yang menggunakan aplikasi pembelajaran dapat memantau selama proses pembelajaran berlangsung guru dapat memantau dari rumah dan siswa juga belajar dari rumah,siapa siswa yang hadir, siswa yang mengerjakan tugas tepat waktu, siswa yang aktif, siswa yang pasif bahkan siswa yang main game online guru dapat mengetahuinya secara langsung.

Pengunaan aplikasi pembelajaran secara tidak langsung meringankan tugas guru, seperti memeriksa tugas, memeriksa ulangan harian atau ujian. Guru memasukkan soal dan kunci jawaban ke dalam aplikasi kemudian menentukan hari dan jam pelaksanaan penilaian. Setelah penelaian berakhir aplikasi akan langsung memberikan nilai persiswa dan sudah diurutkan dari yang tertinggi ke yang terendah lengkap dengan analisis butir soal sehingga guru tidak perlu lagi memeriksa satu persatu sehingga lebih efisien waktu. Dari rekap nilai yang diperoleh guru sudah dapat melaksanakan remedy bagi siswa yang nilainya di bawah KKM dan pengayaan bagi siswa yang nilainya diatas rata-rata nilai kelas. Bila pembelajaran online ini berjalan dengan baik, maka sangat memudahkan tugas guru, siswa tidak perlu lagi membeli buku cetak, guru tidak lagi disibukkan dengan berbagai macam tugas administrasi pembelajaran. Pembelajaran online ini bias saja di manfaatkan diluar situasi pandemi seperti sekarang ini.

Hal di atas sisi positif bila dilihat dari guru, sedangkan sisi positif bila kita tinjau dari siswa, selama PJJ siswa lebih santai dalam belajar bagi mereka yang tidak mengerti mereka dapat bertanya langsung ke guru mata pelajaran tanpa rasa malu ditertawakan oleh teman-temannya, mereka dapat mengerjakan tugas dengan lebih rileks karena berada di rumah dan posisi dapat senyaman mungkin tidak harus duduk di kursi mereka bisa saja mengerjakan tugas sambil tiduran, mendengar musik dan dapat juga sambil membantu orang tua seperti sambil menjaga warung misalnya dan banyak lagi yang lainnya.

Tapi kenyataan sekarang yang dihadapi terutama di tempat saya mengajar selama pembelajaran jarak jauh masih jauh dari yang diharapkan. Sebagian besar guru masih sukar untuk menggunakan aplikasi, penggunaan paket internet yang membengkak. Guru masih disibukkan dengan berbagai administrasi seperti pembuatan LKPD (lembar kerja peserta didik) yang seharusnya dapat dibagikan secara online tapi karena adanya pembelajaran luring maka LKPD harus diprintkan sejumlah peserta didik yang pembelajarannya secara luring, pada pembelajaran PJJ masih ada siswa yang tidak memiliki handphone ataupun laptop sehingga proses pembelajaran tidak dapat terlaksana sebagai mana mestinya. Setelah pembelajaran masih ada siswa yang main game online atau melihat situs-situs yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran, ini dari sisi negatifnya.

Pembelajaran pada masa pandemi ini harus mempertimbangkan segala hal. Proses pembelajaran PJJ harus dengan persetujuan wali murid apakah mereka memilih pembelajaran daring ataupun luring. Mengingat ekonomi keluarga siswa menengah ke bawah, maka di sekolah tempat saya mengajar sebagian besar memilih pembelajaran luring, hal itu disebabkan karena bila pembelajaran daring memerlukan paket data internet yang tidak sedikit apalagi dalam keluarga tersebut memiliki beberapa orang anak yang masih dalam usia sekolah, ada keluarga yang hanya memiliki satu Hp android, pada siang hari dibawa oleh orang tuanya bekerja, ada juga keluarga yang di rumahnya memiliki laptop, masing-masing anak memiliki Handphone android dan ada jaringan internet tapi itu hanya beberapa orang saja. Di tempat saya mengajar PJJ hanya sepertiga dari jumlah siswa yang melaksanakan PJJ yaitu siswa yang memilih pembelajaran secara daring.Pembelajaran luring siswa tetap datang ke sekolah untuk menjemput dan mengantarkan tugas yang diberikan guru dan mereka datang sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Pada awal bulan Oktober sekolah kami mendapatkan bantuan paket data internet, tapi karena sebagian besar siswa memilih pembelajaran luring maka paket data tersebut kurang termanfaatkan.

Dengan segala keterbatasan, maka kami melaksanakan proses pembelajaran dengan dua versi. Versi PJJ untuk pembelajaran daring menggunakan aplikasi e-learning, whatsapp, google classroam, ruang guru, dan yang lainnya dengan pertimbangan aplikasi yang membuat guru nyaman dalam mengajar serta siswa juga nyama dalam belajar jadi penggunaan aplikasi di serahkan kepada guru, aplikasi mana yang mereka kuasai. Sedangkan untuk pembelajaran versi luring siswa datang ke sekolah untuk menjemput dan mengantar tugas sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan sehingga tidak terjadi penumpukan siswa. Pada pembelajaran daring siswa dapt langsung melihat nilai yang diperolehnya pada aplikasi sedangkan pada pembelajaran luring siswa menunggu tugas dinilai guru baru mereka dapat mengetahui nilai yang dipeeerolehnya. Kedatangan siswa ke sekolah harus memenuhi protokol kesehatan.

Bilakah pandemi ini akan berakhir, siswa rindu belajar sekolah, guru rindu mengajar di kelas. Semoga pendemi ini segera berakhir dan proses pembelajaran seperti semula tatap muka antara guru dan siswa di dalam kelas. Semoga ini cepat terlaksana, Aamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us