KESANTUNAN MENINGKATKAN KEWIBAWAAN

Kesantunan lebih utama dari hanya sekedar menahan marah, kenapa? Kerena menahan amarah itu ketika adanya pancingan atau pemberontakan untuk marah, lalu ia menahan diri agar tidak marah, setelah ia tidak jadi marah, gonjangan pada dirinya kembali hilang, keadaannya kembali stabil dan tenang seperti semula. Berbeda dengan kesantunan, sifatnya alami, awalnya tetap ada usaha untuk berlaku santun, tetapi lama kelamaan menjadi sifat yang alami, baik ada gonjangan pada diri atau tidak ada., ia tetap dalam keadaan santun. Kesantunan ini menunjukkan kesempurnaan akal pada diri seseorang.

Imam Ghazali menyebutkan bahwa kesantunan akan mengikis sifat sombong yang menggerakkan amarah. Orang sombong biasanya mudah terpancing amarah. Dengan demikian tidak akan bisa bersatu antara santun dan sombong. Kedua sifat ini saling bertolakan satu sama lain (Ihya `Ulumuddin).

Sebagai tanda pembicaraan itu santun adalah adanya tindakan perlokusi di dalamnya, yaitu pembicaraan itu yang menyenangkan lawan bicara, tentu pembicaranya tidak terlihat angkuh, sombong dan memaksa.  Sebaliknya tentu tergolong tidak santun, apabila pembicara dengan pembicaraan menimbulkan ketidaknyamanan lawan bicara, termasuk mengkritik secara langsung, didorong emosi, memojokkan, menyampaikan tuduhan dan kecurigaan, memperlihatkan kesombongan dan memaksakan kehendak sendiri.

Ciri Orang Santun:

Setiap sesuatu ada tanda atau ciri-cirinya, begitu juga orang yang santun juga punya ciri-ciri. Beberapa ciri seseorang terlihat santun dalam berbicara yaitu; terlihat kerendahan hatinya dalam berbicara, ia penuh simpati, terlihat sifat kedermawanan pada dirinya, ia mengungkap pembicaraan dengan penuh pertimbangan, ia tidak sungkan mengangkapkan bahasa pujian terhadap lawan bicara, menunjukkan penghargaannya terhadap ide-ide lawan bicaranya dan  tidak terlihat cuek dan meremehkan lawan bicaranya. 

Pintar dan Berpangkat tetapi Tidak Santun

sering terdengar, ada orang yang pintar meskipun ia sudah sampai tingkat doktor bahkan profesor karena ilmu dan pendidikannya tetapi tidak memiliki sifat santun, ia berkata kasar, mencela orang, menghujat dan banyak nama-nama hewan yang keluar dari mulutnya yang ditujukan kepada orang lain.

Ada pejabat juga yang angkuhnya luar biasa, seolah-olah kantor itu milik pribadinya padahal itu kantor pemerintah, seolah-seolah ia tidak akan pensiun dan mati padahal ia sudah mulai sakit-sakitan, pensiun pun sebentar lagi tetapi sifatnya yang selalu menghujat anak buahnya tidak ia hentikan. Ia selalu merasa benar sedangkan orang lain salah semua, ia suka mengkritik dan mempermalukan anak buahnya di hadapan orang banyak, sehingga anak buahnya kecut dan malu, wajahnya pucat sedangkan hatinya pasti memberontak. 

Lalu apa tanggapan orang-orang terhadap orang pintar dan pejabat seperti di atas?

Terhadap profesor dan doktor tadi orang berkata, bapak ini memang pintar ia menguasai banyak hal, tetapi sayang orangnya kasar tidak punya kelembutan hati dan kesantunan. Jangankan orang lain, mungkin keluarganya pun akan menjauh darinnya. Akhirnya muncul rasa su ‘uzzhon orang lain menilainya.

Terhadap penjabat tersebut orang menilai, eh Bapak ini kasarnya luar biasa ya, temperamentalnya sungguh berkelewatan, lalu orang bertanya sudah berapa lama ia menjabat? Berapa lama lagi ia pensiun? Semoga cepat ia pensiun, atau cepat ia mutasi ke kantor lain, sebab orang seperti ini membuat suasana dalam instansi tidak nyaman.

Begitulah kira-kira gambaran orang, meskipun ia pintar, sudah lama mengikuti pendidikan, punya banyak ilmu hingga mendapatkan jabatan tertinggi di bidang akademik. Begitu juga pejabat di perusahaan dan pemerintahan, bahkan Bupati, Gubernur dan Presiden. Jika mereka tidak memiliki sifat santun, kebanyakan orang menilainya tetap negatif, nanti setelah ia tidak menjabat lagi atau telah pensiun, orang tidak akan memperdulikannya, menjauh darinya dan ia akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial.     

Begitulah gambaran yang terjadi terhadap orang pintar dan pejabat yang sombong, tidak santun, lebih gawat lagi yang terjadi terhadap orang biasa yang berlaku sombong tentu lebih tidak terpandang. Maka kita sebagai makhluk tidak pantas berlaku sombong.

Sebagai ulama penuntun umat tentu paling tidak pantas berlaku sombong, ia mesti berlaku santun. Ulama yang santun disebut dalam al-Qur`an dengan istilah Rabbaniyîin (ulama-ulama yang santun). Ini bukan sekedar orang yang berilmu saja, tetapi di samping memiliki keluasan dalam ilmu juga memiliki sifat santun, hati lembut dan bersih. Muhammad Iqbal mengatakan pilar akal adalah kesantunan, tumpuan semua masalah adalah kesabaran.

Alangkah indahnya ulama dengan kedalaman ilmu, pejabat dengan jabatannya, orang kaya dengan kekayaannya dibarengi dengan ketulusan, kesantunan dan kelembutan hati. Orang-orang pasti senang padanya, rindu ingin jumpa dengannya, dan akan selalu mendoakannya.

Abu Domdom bersedekah dengan Kesantunan

Ada kalanya kita terpancing emosi dan ingin meluapkan kemarahan kepada orang lain, tetapi karena teringat kisah Abu Domdom yang begitu santun, akhirnya kemarahan kita urungkan kembali.  Lalu siapa sebanarnya Abu Domdom?

Abu Domdom adalah sahabat Nabi yang paling miskin yang bersedekah dengan berbekal kesantunannya, kemulian hatinya dan selalu berprasangka baik dalam hatinya pada orang lain.

Satu hari, Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada Abu Domdom untuk bersedekah, kemudian beliau terus pulang ke rumah untuk mencari sekeping dinar atau dirham untuk disedekahkan, tetapi beliau tidak jumpa apa-apa. Lalu pada malam itu beliau bertahujjud dua rakaat dengan sepunuh hati ia berdoa kepada Allah:

Ya Allah, orang-orang berharta bisa berharta dengan hartanya, mereka yang memiliki kuda bisa mengerahkan kudanya untuk berjihad, dan yang memiliki unta bisa menyiapkan unta mereka. Sedangkan aku tidak mempunyai harta benda, kuda maupun unta. Ya Allah, aku sedekahkan kepada-Mu dengan doaku ini dan terimalah doaku:

Ya Allah, setiap orang yang berbuat zalim kepadaku atau mencelaku atau mencaciku daripada kalangan kaum muslimin, maka jadikanlah mereka senantiasa sehat, mendapat kemudahan dan menerima kemaafan daripada-Mu.

Akhirnya, Allah pun menerima amalan sedekahnya. Firman Allah “sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) orang-orang yang bertaqwa” (Qs. Al-Maidah: 27)

Sungguh hebat amalan yang dilakukan oleh sahabat Nabi yang bernama Abu Domdom, beliau bersedekah tidak dengan harta, kuda atau pun unta tetapi beliau bersedekah hanya dengan kesantunan dan kelembutan hatinya dengan memaafkan kesalahan orang lain terhadap dirinya.  Dalam untaian kata yang indah berliau menyebutkan: Inni shadaqtul yaum bi`ardhi `ala man zhalami (sesunggunya aku bersedekah hari ini, dengan sifatku terhadap orang yang telah menzhalimiku). Akhirnya Nabi memuji beliau dan menyuruh para sahabat untuk belajar kesantunan kepada beliau.

Kesantunan Meningkatkan Wibawa

Semua orang ingin dihargai, dimuliakan dan tidak ada orang yang ingin dicela, dihina dan diremehkan. Maka berbagai macam cara orang mencari cara agar dihargai orang lain, ada dengan cara menumpukkan harta agar terlihat kaya, ada yang menjadi pejabat agar disegani, ada yang kuliah tinggi-tinggi agar terlihat pintar.

Memang dengan harta, jabatan dan ilmu bisa meningkatkan cahaya mata, prestise dan kewibawaan, tetapi ketiganya mestilah dibarengi dengan atau dibaluti dengan kesantunan, karena sifat santu itu di atas ilmu tentu di atas jabatan dan harta, karena ilmu lebih mulia dari jabatan dan harta.

Dalam sebuah hadits terlihat jalan untuk mendapat kemuliaan, pengaruh dan wibawa. Abu Hurairah berkata Nabi Muhammad Saw bersabda, carilah kemuliaan di sisi Allah, sahabat bertanya: bagaimana caranya ya Rasullallah? Beliau bersabda: sambungkan silaturrahmi kepada orang yang memutuskan silaturrahmi, berilah makan kepada orang yang tidak mau meminta, dan bersifat santunlah kepada orang yang bodoh (HR. Hakim dan Baihaqi)

Santun termasuk kebiasaan para rasul. Rasulullah SAW bersabda: lima kebiasaan para Rasul yaitu: Sifat malu, santun, berbekam, bersiwak, dan berwangi-wangian (HR. At-Tirmidzi).

Dengan demikian, meskipun seseorang sudah berilmu, punya jabatan dan kaya harta ia mesti memiliki sifat santun agar ia lebih dihargai, dihormati, disegani, punya kewibawaan di hadapan orang lain.

Doa Kesantunan dan Kewibawaan

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, kesantunan meningkatkan kewibawaan, maka ada sebagian individu yang wibawanya luar biasa, jika ia datang atau masuk ke suatu perkumpulan, perhatian orang langsung tertuju kepadanya, padahal gayanya biasanya saja, pakaiannya sangat sederhana. Bahkan dalam posisi sosial ia tidak orang berpangkat maupun orang kaya, tetapi orang sangat segan padanya. Ini lah bukti kewibawaan masing-masing orang berbebeda.

Untuk meningkat kesantunan dan kewibawan tersebut, Rasulullah telah mengajarkan doanya. Diantara doa Rasulullah SAW: Allahumma Aghnini bil`ilmi, wa zaiyinni bilhilmi, wa akrimni bittaqwa, wa jammilni bil`afiyah. Artinya: ya Allah kayakanlah aku dengan ilmu, hiasilah aku dengan kesantunan, muliakanlah aku dengan taqwa, dan baguskanlah aku dengan kesehatahan.

Melihat keindahan untaian kalimat doa dan keelokan maknanya, baiknya kita baca dengan penuh kekhusu`an baik setelah shalat wajib, sebelum tidur dan di waktu lain, agar kesantunan dan kewibawaan yang diminta kepada Allah bisa dikabulkan. [Dr. Yundri Akhyar., MA]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us