KONTRIBUSI SASTRA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER ANAK BANGSA

 

Oleh: Nengsi Yoana, S.Pd
MTSN 1 Pelalawan

Seiring pesatnya perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan, sedikit banyak juga terdampak bagi guru selaku praktisi dalam dunia pendidikan. Berbicara mengenai guru, tentunya juga membicarakan tentang perkembangan metode  yang digunakanya. Saat ini metode pembelajaran sedang dikembangkan sedemikian rupa. Berupaya untuk mencari dan menemukan strategi pendidikan yang tepat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Lembaga sepakat bahwa peserta didik bukan hanya sebagai objek yang dapat di bentuk sesuai kurikulum yang dirancang. Namun juga sebagai subjek yang mampu berpikir dan berusaha untuk menemukan esensi dari proses pembelajaran itu sendiri. Berusaha untuk menemukan jati diri dan identitas diri. Bukan menjadi buruh-buruh intelektual yang tidak memiliki kepekaan rasa pada diri. Merujuk dari hal itu, penting kiranya menanamkan unsur sastra dalam sistem pembelajaran.

Sebab banyak remaja dan pemuda kurang memiliki kepekaan terhadap rasa. Emosinya tidak terolah dengan baik. Wajar saja bila banyak lulusan sekolah maupun sarjana yang hanya memikirkan diri sendiri dan kurang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Dengan demikian unsur sastra mempunyai kontribusi sendiri sebagai media pembelajaran. Sastra juga dapat dimanfaatkan untuk membina dan mengembangkan karakter peserta didik.

Istilah kata sastra tentunya tidak asing bagi peserta didik. Menurut Sumardjo Sastra didefinisikan sebagai sebuah karya sastra dengan kegiatan seni yang berhubungan dengan ekspresi dan penciptaan. Sastra bukanlah  ilmu, tetapi seni. Di dalam seni secara ekstrinsik banyak unsur nilai-nilai kemanusian yang masuk, khususnya perasaan; sehingga sukar untuk diterapkan untuk metode keilmuan.

Secara etimologis kata sastra berasal dari Bahasa Sansekerta, berakar kata sas- yang berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau intruksi; dan akhiran –tra yang menunjukkan adat, sarana; sehingga sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Dalam dunia pendidikan, sastra dapat dinyatakan sebagai seni untuk menyampaikan ajaran. Paling tidak secara mendasar, sastra harus mampu mengungkapkan atau mengandung tiga aspek berikut, yaitu docere (memberikan sesuatu kepada pembaca), delectare (memberikan kenikmatan melalui unsur estetik), dan movere (mampu menggerakkan kreativitas pembaca).

Relasi antara sastra dan pendidikan, khususnya dalam pembentukan kepribadian seseorang dapat ditinjau dari permasalahan diamati dan kondisi moralitas bangsa Indonesia yang kian hari semakin merosot. Nilai dan norma sosial tidak lagi dijadikan rujukan serta Guru tidak lagi dijadikan sebagai teladan. Penjahat bertebaran di mana-mana. Mulai dari perampok kelas kakap hingga maling ayam di kampung-kampung. Demikian pula dengan pemudanya yang sebagian terjebak pergaulan bebas, pesta miras, memakai narkotika, tawuran, melakukan aksi vandalisme, dan sebagainya.

Hal tersebut tentu tidak dapat diabaikan begitu saja. Sebagai orang tua juga harus berperan sebagai pendidik bagi peserta didik, sebab orang tua mempunyai tanggung jawab sebagai seorang guru. Ini juga jadi tugas dalam membina mental dan kepribadian bangsa.

Maka dari itu, melalui sistem pembelajaran dan pendidikan yang berkualitas diharapkan karakter anak bangsa akan terbangun secara perlahan. Dengan menggunakan sastra sebagai media pembelajaran dalam Pendidikan, sehingga peserta didik dapat mengasah emosi, mental dan perasaan serta diharapkan mampu membedakan antara yang baik dan buruk. Inilah salah satu kontribusi sastra dalam pendidikan karakter anak bangsa. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Tarigan bahwa sastra sangat berperan dalam pendidikan anak yaitu dalam perkembangan bahasa, perkembangan kognitif, perkembangan kepribadian, dan perkembangan sosial.

Beberapa produk sastra yang dapat dilihat dan dinikmati yakni berupa novel, puisi, teater, drama, dan sebagainya. Hasil karya tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran dalam sistem pendidikan karakter. Sistem pendidikan ini dapat diterapkan melalui dua langkah yaitu: (1) Pemilihan bahan ajar, dan (2) Pengelolaan proses pembelajaran. Dalam hal ini, pengajar dituntut lebih kreatif dalam mengembangkan minat, bakat, dan kemauan peserta didik.

Merujuk dari pernyataan di atas dapat disimpulkan, bahwa kontribusi sastra dalam pendidikan karakter anak bangsa adalah sebagai berikut:

  1. Sastra sebagai media pembelajaran dalam pendidikan dapat mengasah emosi, mental dan perasaan para peserta didik.
  2. Sastra dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar, sehingga pengajar dapat lebih kreatif dalam mengembangkan minat, bakat dan kemauan peserta didik.
  3. Melalui sastra dapat mengembangkan kompetensi keterampilan bahasa, mengembangkan kepribadian peserta didik.
  4. Karya Sastra mampu mengajarkan, menghayati, dan menanamkan nilai-nilai luhur dan estetika berbahasa kepada anak bangsa.
  5. Melalui sastra peserta didik banyak belajar bagaimana cara berbudi bahasa dan berperilaku yang santun.

Mudah-mudahan melalui sastra dan karya-karya sastra dapat menghimbau dan dapat mengaplikasikan nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan sehari-hari, sehingga diharapkan dapat terwujud melalui dunia pendidikan dan perpanjangan tangan dari guru-guru atau tenaga pendidik. Terkhususnya guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa dan Satra Indonesia. Sehingga melalui sastra peserta didik diharapkan menjadi anak-anak yang kreatif, cemerlang, dan memiliki mental serta kepribadian yang tangguh. Sebab di tangan merekalah generasi penerus bangsa Indonesia ini.

Editor: Muhammad Aminpoel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us