MEMAKNAI BELAJAR DAN LIBURAN DALAM KONSEP STUDI TOUR KE ISTANA SIAK SRI INDRAPURA

Sebanyak 40 Mahasiswa angkatan 2017 dan dua orang dosen STIT Al-Kifayah Riau mengikuti studi tour ke Istana Siak Sri Indrapura. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Minggu (05/04/2019).

Dunia perkuliahan tidak harus soal belajar teori di kelas, adakalanya mahasiswa diharuskan mampu untuk menerapkan teori tersebut. Di sini studi tour hadir sebagai salah satu alternatif mahasiswa untuk lebih mendalami ilmu yang diberikan di kelas. STIT Al-Kifayah Riau termasuk salah satu yang kerap melakukan hal ini.

Rendy Ahma Putra, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) yang baru saja mengikuti studi tour ke Istana Siak Sri Indrapura mengaku bahwa banyak manfaat yang bisa ia dapatkan diantaranya menambah wawasan mengenai beraneka ragam suku, ras, agama dan budaya. Dengan mendatangi tempat budaya dan sejarah kita juga akan belajar mengenai kebudayaan setempat sehingga kita akan bisa melestarikan budaya Indonesia yang mulai luntur dimakan zaman.

“Kami mengunjungi tempat bersejarah di Istana Siak Sri Indrapura, di sana kita bisa langsung melihat dengan jelas bagaimana bentuk Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura, sejarahnya yang disampaikan oleh tour guide, jelas berbeda dengan kita yang hanya menyaksikan di televisi,” ungkap mahasiswa angkatan 2017 itu.

Bicara mengenai studi tour maka tidak jauh dari sejumlah biaya yang perlu digelontorkan, Besaran biaya tentu menjadi dilema bagi mahasiswa, terutama mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mapan. Pro-kontra pun hadir, umumnya studi tour dilakukan setiap satu tahun sekali dengan mengambil objek tempat-tempat wisata atau sesekali mengunjungi tempat bersejarah di dalam maupun luar kota. Faktanya, semakin jauh objek yang dikunjungi, semakin besar pula biaya yang dikeluarkan.

Menurut Muhammad Dasopang salah mahasiswa PGMI Kelas C.17, sudah semestinya dosen memberitahukan kepada mahasiswa di jauh hari ketika hendak melaksanakan studi tour. Itu agar ilmu yang di dapat bisa sebanding dengan besaran biaya yang dikeluarkan masing-masing mahasiswa.

“Menurut saya sebanding dengan ilmu yang kita dapat, banyak menambah wawasan kita dan ingat pengalaman itu sangat mahal dan berharga, karena pengalaman adalah guru paling berharga” ujar Dasopang.

Dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Maspuri,M.Pd beranggapan bahwa studi tour merupakan hal efektif dalam upaya mengimplementasikan apa yang dipahami secara teori. Tapi, lagi-lagi banyak mahasiswa kesulitan memenuhi besaran biaya yang ditetapkan. Maspuri,M.Pd mengatakan sejak mahasiswa duduk di semester awal, telah ada imbauan kepada mahasiswa untuk menyisihkan sejumlah dana hingga semester 4. Tujuannya agar mahasiswa bisa sedikit tidak terbebani ketika studi tour hendak dilaksanakan. Studi tour juga mengajari kepada mahasiswa bahwa belajar itu juga harus menyiapkan dana,” ujarnya.

Sementara Pembina STIT Al-Kifayah Riau, Dr.Yundri Akhyar, MA memaparkan studi tour dilakukan untuk menambah dan memupuk pengetahuan serta sebagai alternatif belajar yang dibungkus rasa liburan sehingga jauh dari kejenuhan seperti ketika belajar di dalam kelas. “Penting buat liburan, ungkapnya.

Tempat yang dikunjungi kegiatan studi tour yaitu Istana Siak (Istana Sultan Syarif Kasim), Balai Kerapatan Tinggi (Balairung Sri), Masjid Sultan Siak (Masjid Raya Syahabuddin), Makam Sultan Siak (Sultan Syarif Kasim II), Air Mancur Siak Bermadah (Bermusik dan Menari), Pasar Seni Siak (Pasar Penjualan Souvenir), Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, Komplek Makam, Klenteng Hock Siu Kiong.

Metode pembelajaran yang dibungkus ala liburan ini mestinya mampu membuat mahasiswa belajar, berinteraksi, dan menarik hikmah saat berada di lapangan. Sehingga bukan motif bonus jalan-jalan yang menarik para peserta studi tour ini, melainkan keinginan untuk selalu belajar. (Aminpoel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us