PARENTAL RESPONBILITY DALAM PEMBELAJARAN DARING

Oleh : Elfi Harti, S.Pd
(Guru MTsN 3 Kota Pekanbaru)

Beberapa tahun belakangan ini fullday mulai diterapkan di sekolah-sekolah, baik itu sekolah negeri maupun swasta para orang tua berlomba mendaftarkan putra putri mereka sekalipun biayanya begitu mahal yang penting orang tua tak lagi mengurus segala berkaitan dengan pendidikan anak-anak mereka. Pagi anak diantar ke sekolah sore dijemput. Disaat anak berada di sekolah, orang tua yang bekerja maupun ibu rumah tangga tidak lagi direpotkan oleh anak yang akan menghalangi langkah dan kegiatan orang tua. Dengan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab kepada pihak sekolah, sekolahpun sudah berubah fungsi sebagai penitipan anak. Seakan kita lupa bahwa tanggung jawab terhadap anak dari  dunia sampai akhirat adalah tanggung jawab orang tua. Seolah-olah guru lah yang bertanggung jawab terhadap anak-anak, apakah itu memantau ibadah atau pun kegiatan lainnya. Para orang tua lupa firman Allah dalam Alquran surah At Tahrim ayat 6 yang artinya “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”. Ajarkan lah anak-anak mu Alquran walaupun satu huruf yang akan menjadi ilmu yang bermanfaat buat oang tuanya walaupun kamu bukan seorang guru. Maka jadilah kamu untuk guru anak-anakmu kelak.

Para ibu-ibu yang disibukkan berkumpul dengan sahabat-sahabatnya di kelompok sosialita, menonton TV di rumah sambil memegang remot di channel mereka yang diinginkan, bermain smartphone kapapun mereka mau tanpa ada yang mengganggu ketenangannya. Tapi sekarang segalanya telah berubah. Ketika virus corona datang menghampiri negeri ini. Anak tidak lagi datang dan belajar ke sekolah dan tidak ada lagi yang namanya pergi pagi pulang sore. Sekarang full belajar di rumah dengan gawainya yang mana orang tua harus mendampingi mereka selama pembelajaran daring (dalam jaringan). Mereka harus sabar dan tabah menghadapi sikap dan tingkah laku anak-anak dengan kemampuan ilmu yang sangat terbatas. Okelah mata pelajaran mudah seperti : PKn, Sejarah, dan rumpun ilmu sosial lainnya mungkin bisa dibaca dan dipahami. Tetapi mata pelajaran eksakta seperti Matematika dan IPA yang ada hitung hitungnya, membuat orang tua pusing tujuh keliling sehingga terjadilah tugas yang menumpuk.

Tidak mudah bagi orang tua dan anak belajar secara daring. Di sini orang tua dihadapkan berbagai persoalan. Tidak jarang dalam mendampingi anak belajar di rumah, orang tua sering terpancing emosinya. Akhirnya anak menjadi kurang nyaman belajar dengan orang tua hal ini disebabkan kurangnya kesabaran orang tua dalam mendampingi anak belajar. Hal ini terjadi karena orang tua mengajar tidak dengan sepenuh hati karena merasa tugas tambahan mendampingi anak belajar di rumah menganggu aktivitas mereka yang selama ini dengan leluasa dilakukan. Mereka harus berpikir ternyata mendidik anak-anak dan  mengajar bukan hal yang mudah. Mereka hanya berhadapan dengan satu atau dua anak saja sementara guru menghadapi puluhan siswa dalam satu kelas dalam waktu yang bersamaan. Orang tua sudah kehilangan kesabaran sampai mengeluarkan istilah darting (darah tinggi).

Setiap haru guru menghadapi siswa yang berbeda karakter. Masa belajar di rumah saja akibat pandemi Covid-19 ini membuat orang tua semakin jenuh dengan anak-anak mereka. Bahkan ada orang tua yang menuntut agar sekolah kembali dibuka sehingga mereka  terbebas memikul tanggung jawab di pundak mereka terlalu lama. Sebenarnya inilah kesempatan orang tua untuk dekat dengan putra putri mereka, bisa memantau perkembangan kemampuan anak-anak mereka dan membimbing ibadah mereka di rumah. Semua tentu ada hikmahnya apalagi untuk anak kita yang selama ini terabaikan.

Walaupun pemerintah sampai saat ini belum mengambil keputusan dan keberanian untuk membuka sekolah karena terlalu beresiko terhadap penularan virus ini. Di sejumlah daerah masih tinggi penyebaran virus corona dengan status zona merah. Namun dikalangan orang tua belum bisa memahami dan tidak memikirkan resiko buat putra putri mereka jika anak-anak kembali ke bangku sekolah walaupun dengan penerapan protokol kesehatan sebagaimana telah diterapkan oleh pemerintah.

Secara ketat, pemerintah tidak ingin teledor dengan keputusan tergesa-gesa untuk melindungi generasi muda di negeri ini. Kita semua berharap peran orang tua terhadap anak-anak untuk mendampingi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) agar masa depan mereka tidak terbengkalai dan hancur perlahan-lahan.  Kita tentu tidak menginginkan hal itu terjadi. Selama pandemi ini orang tua berkesempatan mendampingi anak-anak, memahami anak-anak mereka lebih dekat. Mendampingi saat penggunaan gadget untuk tujuan pembelajaran secara online dengan menggunakan aplikasi yang mendukung dalam proses pembelajaran daring seperti e-Learning, Google Classroom serta menggunakan Zoom atau Google meet dan Jitsimeet dan aplikasi pendukung lainnya. Bimbingan dan pendampingan dari orang tua sangat berperan besar dalam situasi dan kondisi seperti ini agar mendapatkan hasil yang maksimal dan memuaskan. Belum lagi orang tua mengeluh soal pembiayaan paket begitu banyaknya yang dibutuhkan dalam kurun waktu beberapa bulan belakangan ini. Apalagi yang menggunakan aplikasi berbasis pertemuan virtual seperti aplikasi Zoom dan Google Meet yang memakan banyak kuota.

Orang tua adalah ujung tombak kebahagiaan anak-anaknya. Mereka membutuhkan kasih sayang dan perhatian orang tua. Bimbingan orang tua ketika mereka tidak lagi duduk di bangku sekolah, mendampingi ibadah mereka, mengaji, membuat segala kegiatan di rumah dengan lemah lembut. Seperti banyak yang telah viral diberitakan tentang emosional orang tua terhadap anaknya hingga tega membunuh dan menganiaya anaknya selama masa virus corona ini. Nauzubillah min zaliq.

Ketika membicarakan kasih sayang orang tua terhadap anaknya sepanjang masa seperti sungai yang mengalir tanpa henti. Rumah adalah “Madrasahtul ‘ula” atau sekolah pertama bagi anak-anak. Di mana keluarga sebagai tempat bernaung yang paling di dambakan anak-anak. Yang pertama mengajarkan tata krama dan sopan santun, sikap, dan etika dalam kehidupan ini. Orang tua tak kepas dari jeratan ini semua.

Awal dari pertumbuhan putra-putri mereka mengawali pembelajaran pada masa bayi. Orang tua mengajarkan kepada anak bagaimana cara memegang sendok dan gelas untuk minum serta masih banyak lagi untuk memulai kehidupan mandiri dan membentuk kepribadian tahun ke tahun. Dulu ketika sekolah hanya setengah hari, lebih banyak waktu di rumah bersama orang tua. Tetapi ketika anak menuntut ilmu satu hari penuh pergi pagi dan pulang sore, namun tidak menjadikan mereka karimah, malahan sebaliknya. Kurang hormat kepada orang tua dan gurunya. Apa yang sebenarnya yang terjadi, ternyata peran orang tua jauh lebih berharga daripada guru di sekolah.

Entah sampai kapan virus ini akan hilang dari permukaan bumi ini hanya Allah lah yang Maha berkehendak. Sebagai hambanya hanya bisa ikhtiar dan tawakal dengan semua kondisi ini. Sudah lama anak-anak tidak mendapatkan hak untuk belajar dan bermain bersama teman-temannya di sekolah. Begitu juga dengan para guru sudah merindukan suara hiruk pikuk di kelas, canda dan tawa anak-anak ketika pembelajaran secara tatap muka. Untuk sekarang ini, orang tua dengan ihklas dan berlapang dada mendampingi anak-anak belajar di rumah. Dan ke depannya diharapkan peran dan tanggung jawab orang tua mendidik anak di rumah tetaplah menjadi tanggung jawab orang tua. Guru hanyalah membantu tugas dan tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak di sekolah. Apapun  yang ditakdirkan oleh Allah untuk hambanya di bumi ini pasti ada hikmah di baliknya tergantung bagaimana cara kita sebagai hamba menyikapinya secara bijak, kita  tidak akan pernah tahu rencananya di balik semua ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us