PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM MENCEGAH PENYEBARAN COVID-19 YANG MELIBATKAN SISWA DI SEKOLAH

ERWIF NAWARNI, S.Pd.I
(SDN 136 PEKANBARU)

Sekarang ini dunia pendidikan dikejutkan dengan mewabahnya suatu penyakit yang disebabkan oleh sebuah virus yang bernama corona atau dikenal dengan istilah COVID-19 (Corona Virus Diseases-19). Virus yang dimulai mewabah 31 Desember 2019 di Kota Wuhan Provinsi Hubei Tiongkok, saat ini menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia dengan sangat cepat, sehingga WHO menetapkan pada tanggal 11 Maret 2020 wabah ini sebagai pandemi global.

Jutaan manusia terpapar virus ini di seluruh dunia, bahkan puluhan ribu menjadi korban meninggal. Tercatat negara-negara yang memiliki kasus tinggi terpapar covid saat ini adalah Italia, Tiongkok, Spanyol, Amerika Serikat, Iran dan Indonesia juga termasuk salah satu yang paling banyak kematian di dunia sebanyak 15.678 orang dengan update terakhir tanggal 20 November 2020.

Penularan yang sangat cepat dan sulitnya mendeteksi orang yang terpapar karena masa inkubasi covid-19 kurang lebih 14 hari menjadi penyebab banyaknya korban berjatuhan. Penularan lewat kontak antar manusia yang sulit diprediksi karena kegiatan sosial yang tidak bisa dihindari merupakan penyebab terbesar menyebarkannya covid-19 ini. Obat penawar yang belum bisa ditemukan dan jumlah korban yang terpapar covid-19 menjadi penyebab kematian yang paling tinggi. Rumah sakit dan paramedis yang menangani merasa kewalahan sehingga pasien yang tidak tertangani dengan baik.

Di lingkungan sekolah perlu dilakukan Pendidikan dan perlindungan siswa serta fasilitas pendukung sangat penting disediakan untuk mencegah dan mengendalikan potensi penyebaran COVID-19 di lingkungan sekolah. Di bawah ini adalah saran tentang cara melibatkan siswa dari berbagai usia dalam mencegah dan mengendalikan penyebaran COVID-19 dan virus lainnya. Kegiatan harus dikontekstualisasikan lebih lanjut berdasarkan kebutuhan khusus anak:

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

  1. Fokus pada perilaku kesehatan yang baik, seperti menutupi batuk dan bersin dengan siku dan sering mencuci tangan.
  2. Nyanyikan lagu sambil mencuci tangan untuk berlatih durasi 20 detik yang disarankan. Misalnya anak-anak dapat berlatih mencuci tangan dengan pembersih tangan.
  3. Mengembangkan cara untuk melacak mencuci tangan dan memberi penghargaan untuk mencuci tangan yang sering / tepat waktu.
  4. Menggunakan wayang atau boneka untuk menunjukkan gejala (bersin, batuk, demam) dan apa yang harus dilakukan jika mereka merasa sakit (yaitu kepala mereka sakit, perut mereka sakit, mereka merasa panas atau sangat lelah) dan bagaimana menghibur seseorang yang sakit (menumbuhkan empati dan perilaku peduli yang aman).
  5. Mintalah anak-anak duduk terpisah satu sama lain, minta mereka berlatih meregangkan lengan mereka keluar atau mengepakkan tangan, mereka harus memiliki cukup ruang untuk tidak menyentuh teman mereka.

SEKOLAH DASAR

  1. Pastikan untuk mendengarkan keprihatinan anak-anak dan menjawab pertanyaan mereka dengan cara yang sesuai usia; jangan membanjiri mereka dengan terlalu banyak informasi. Dorong mereka untuk mengekspresikan dan mengkomunikasikan perasaan mereka. Diskusikan reaksi berbeda yang mungkin mereka alami dan jelaskan bahwa ini adalah reaksi normal terhadap situasi abnormal.
  2. Tekankan bahwa anak-anak dapat melakukan banyak hal untuk menjaga keamanan diri mereka dan orang lain.
  3. Perkenalkan konsep jarak sosial (menjauh dari teman, hindari kerumunan besar, tidak menyentuh orang jika tidak diperlukan, dll.)
  4. Fokus pada perilaku kesehatan yang baik, seperti menutupi batuk dan bersin dengan siku dan mencuci tangan.
  5. Bantu anak-anak memahami konsep dasar pencegahan dan pengendalian penyakit. Gunakan latihan yang menunjukkan bagaimana kuman dapat menyebar. Misalnya dengan memasukkan air berwarna ke dalam botol semprot dan menyemprotkannya di atas selembar kertas putih. Amati seberapa jauh tetesan tersebut bergerak.
  6. Tunjukkan mengapa penting untuk mencuci tangan selama 20 detik dengan sabun dan air. Misalnya dengan menaruh sedikit glitter atau tinta di tangan siswa dan minta mereka mencucinya hanya dengan air, perhatikan berapa banyak glitter yang tersisa, kemudian minta mereka mencuci selama 20 detik dengan sabun dan air.
  7. Mintalah siswa menganalisis teks untuk mengidentifikasi perilaku berisiko tinggi dan menyarankan untuk mengubah perilaku. Misalnya, seorang guru datang ke sekolah dengan kedinginan. Dia bersin dan menutupinya dengan tangannya. Dia berjabat tangan dengan seorang rekan. Dia menyeka tangannya dengan sapu tangan lalu pergi ke kelas untuk mengajar. Apa yang dilakukan guru yang berisiko? Apa yang seharusnya dia lakukan?

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

  1. Pastikan untuk mendengarkan kekhawatiran siswa dan menjawab pertanyaan mereka.
  2. Tekankan bahwa siswa dapat melakukan banyak hal untuk menjaga diri mereka dan orang lain tetap aman, misalnya:
    1. Memperkenalkan konsep jarak sosial.
    2. Fokus pada perilaku kesehatan yang baik, seperti menutupi batuk dan bersin dengan siku dan mencuci tangan.
    3. Mengingatkan siswa bahwa mereka dapat mencontohkan perilaku sehat untuk keluarganya.
  3. Mendorong siswa untuk mencegah dan mengatasi stigma, misalnya dengan mendiskusikan perbedaannya reaksi yang mungkin mereka alami dan jelaskan ini adalah reaksi normal terhadap situasi yang tidak normal. Dorong mereka untuk mengekspresikan dan mengkomunikasikan perasaan mereka.
  4. Bangun agensi siswa dan minta mereka mempromosikan fakta tentang kesehatan masyarakat. Misalnya dengan meminta siswa membuat Pengumuman Layanan Masyarakat mereka sendiri melalui pengumuman dan poster sekolah.
  5. Memasukkan pendidikan kesehatan yang relevan ke dalam mata pelajaran lain, misalnya:
    1. Studi Sains dapat mencakup studi tentang virus, penularan penyakit dan pentingnya vaksinasi.
    2. Studi sosial dapat berfokus pada sejarah pandemi dan evolusi kebijakan tentang kesehatan dan keselamatan publi Pelajaran literasi media dapat memberdayakan siswa untuk menjadi pemikir dan pembuat kritis, komunikator yang efektif, dan warga negara yang aktif.

SEKOLAH MENENGAH ATAS

  1. Pastikan untuk mendengarkan keprihatinan siswa dan menjawab pertanyaan mereka.
  2. Tekankan bahwa siswa dapat melakukan banyak hal untuk menjaga diri mereka dan orang lain tetap aman. Misalnya dengan memperkenalkan konsep jarak sosial.
  3. Fokus pada perilaku kesehatan yang baik, seperti menutupi batuk dan bersin dengan siku dan mencuci tangan. Dorong siswa untuk mencegah dan mengatasi stigma.
  4. Diskusikan reaksi berbeda yang mungkin mereka alami dan jelaskan ini adalah reaksi normal terhadap situasi abnormal. Dorong mereka untuk mengekspresikan dan mengkomunikasikan perasaan mereka.
  5. Memasukkan pendidikan kesehatan yang relevan ke dalam mata pelajaran lain, misalnya:
    1. Kursus sains dapat mencakup studi tentang virus, penularan penyakit dan pentingnya vaksinasi.
    2. Studi sosial dapat berfokus pada sejarah pandemi dan efek sekundernya serta menyelidiki bagaimana kebijakan publik dapat mendorong toleransi dan kohesi sosial.
  6. Mintalah siswa membuat Pengumuman Layanan Masyarakat mereka sendiri melalui media sosial, radio atau bahkan siaran TV lokal. Misalnya dengan mempelajarari literasi media dapat memberdayakan siswa untuk menjadi pemikir dan pembuat kritis, komunikator yang efektif, dan warga negara yang aktif.

Semoga pandemi Covid-19 ini cepat berlalu seiring dan masyarakat semakin paham akan pentingnya mencegah dan mengendalikan penyebaran covid-19 sesuai dengan protokol Kesehatan yang diberlakukan oleh pemerinyah, sehingga proses pembelajaran bisa terlaksana kembali dengan proses belajar mengajar di sekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us