PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN JARAK JAUH DALAM MENYIKAPI ERA NEW NORMAL

Oleh: Yasniwati, S.Pd.SD

(Guru MI Muhammadiyah Simpang Kubu Kab. Kampar)

Masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) sudah berlangsung beberapa bulan hingga sekarang. Penyebaran virus corona yang semakin meluas menyebabkan Pemerintah mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSPB), di mana pada masa ini mengharuskan kita untuk melakukan pembatasan sosial atau sosial distancing atau physical distancing yakni segala aktivitas dilakukan dari rumah, seperti bekerja, belajar, beribadah dan lainnya. Setelah masa pemberlakukan PSBB berakhir, kita memasuki tatanan kehidupan yang baru pada masa pandemi Covid-19 yaitu “era new normal”. Istilah new normal merupakan tatanan kehidupan normal yang baru dengan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Pola hidup yang baru mengajak kita untuk rajin cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, memakai masker, menjaga jarak dan pola makan bergizi untuk menunjang daya tahan tubuh.

Adapun penarapan new normal berdampak terhadap pendidikan. Proses pembelajaran tidak bisa lagi dilakukan dengan tatap muka melainkan tatap maya. Adapun  pembelajaran yang terjadi pada masa pandemi Covid-19 adalah dengan cara distance learning atau pembelajaran jarak jauh.

Pandemi Covid-19 telah memaksa seluruh komponen pendidikan di Indonesia melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh dapat dilakukan dari rumah menggunakan teknologi seperti video conference atau web conference.

Memasuki new normal pembelajaran pastinya juga kembali ke pembelajaran normal, pembelajaran yang berlangsung di sekolah. Tentunya diperlukan penerapan sistem pembelajaran yang bisa memadukan pembelajaran tatap muka langsung, pembelajaran daring (dalam jaringan), pembelajarang luring (luar jaringan) dan menjalankan protokol kesehatan. Ada beberapa aspek pendidikan yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah dalam menerapkan kebijakan new normal ini. Sistem pembelajaran, kurikulum, kompetensi guru dan infrastruktur sekolah harus disiapkan. Proses pembelajaran yang terjadi di sekolah akan berbeda dengan sebelum masa pandemi.

Pembelajaran yang dilaksanakan pada masa new normal ini akan berbeda dengan pembelajaran yang dilakukan seperti biasa. Kebijakan terkait regulasi dan kurikulum perlu disiapkan oleh pemerintah. Pemerintah juga harus mengkaji kesiapan sekolah dan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran yang akan dilakukan.

Sekolah harus siap dengan infrastruktur dan manajemen yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Begitu juga guru harus meningkatkan kompetensi dalam penguasaan berbagai macam model, metode, dan strategi pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Kepuasan dan keselamatan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran menjadi tujuan yang harus dicapai.

Ada beberapa aspek pendidikan yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah dalam menerapkan kebijakan new normal, yakni :

  1. Sistem pembelajaran

Pembelajaran yang dilakukan harus memperhatikan protokol kesehatan dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19. Proses pembelajaran yang berlangsung harus menerapkan physical distancing, menggunakan masker, dan rutin mencuci tangan dengan sabun. Penerapan physical distancing dengan menjaga jarak tempat duduk siswa akan berdampak pada kapasitas ruang kelas. Dengan demikian perlu dirumuskan pola masuk siswa ke kelas. Kemudian sistem pembelajaran daring dan luring yang selama masa pandemi diterapkan perlu dipertimbangkan untuk tetap dilanjutkan dalam proses pembelajaran.

  1. Kurikulum

Kurikulum harus disesuaikan dengan memodifikasi materi pembelajaran. Materi pembelajaran sangat perlu memuat kecakapan hidup yang harus dimiliki siswa. Beban ketuntasan materi dalam kurikulum juga perlu dibahas sebagai dampak perubahan sistem pembelajaran. Akibatnya, akan terjadi pengurangan materi. Materi pembelajaran akan simple dan lebih menekankan pada pencapaian kompetensi dasar keterampilan siswa.

  1. Kompetensi guru

Perubahan sistem pembelajaran dan penyesuaian kurikulum menuntut guru untuk siap dan mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran di kelas. Belajar dari sistem pembelajaran pada masa pandemi Covid-19 banyak guru yang merasa kesulitan dalam menerapkan pembelajaran daring dengan berbasis kecakapan hidup.

  1. Insfrastruktur sekolah

Perubahan sistem pembelajaran menuntut setiap sekolah untuk menyiapkan insfrastruktur pembelajaran yang lebih dari pada sebelumnya. Dari insfrastruktur yang ada perlu ditambah dengan sarana terkait dengan protokol kesehatan, pembelajaran secara shift, dan pembelajaran daring jika diperlukan.

Penyiapan insfrastruktur ini tentunya membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit. Belum tentu semua sekolah mampu membiayai kebutuhan insfrastruktur yang dibutuhkan. Pemerintah harus menyiapkan skema pembiayaan bagi sekolah dalam menyediakan insfrastruktur pembelajaran apabila new normal diterapkan.

Selain beberapa aspek di atas, perlu didesain suatu pembelajaran yang mudah dan bisa diterapkan. Pembelajaran yang bisa dilakukan siswa dan guru dengan mudah serta memenuhi standar protokol kesehatan. Salah satu yang bisa diterapkan pada masa pandemi ini adalah blended learning.

Blended learning merupakan perpaduan antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online yang dapat meningkatkan efektifitas, akses, dan aksepbilitas dalam pengembangan potensi individu siswa. Ini sangat sesuai dengan kondisi pembelajaran pada masa new normal yang membutuhkan kreatifitas dan inovasi guru dalam mengelola pembelajaran. Di samping itu juga pembelajaran yang dapat diakses dengan mudah dan bersifat fleksibel. Tidak kalah pentingnya lagi efektifitas pembiayaan pendidikan yang dibutuhkan.

Beberapa ahli pendidikan telah menyampaikan beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam mendefinisikan new normal pembelajaran di masa pandemi yaitu:

  1. Partisipasi aktif keluarga

Ketika pembelajaran berlangsung di rumah, maka anggota keluarga harus dilibatkan menjadi fasilitator pembelajaran. Mereka dapat dilibatkan dalam memberikan bimbingan dan bantuan untuk membuat proses belajar menyenangkan bagi siswa. Tentunya hal ini perlu dukungan sekolah yang melatih peran keluarga dalam mendampingi anak belajar di rumah.

  1. Pergeseran ruang belajar

Satu hal yang substansial dalam proses pembelajaran bukan terletak pada gedung sekolah atau ruang kelas. Belajar sekarang terjadi di rumah, di dalam ruang pribadi anak. Pemanfaatan internet membuat ruang belajar dapat dilakukan melalui perangkat pribadi tanpa harus pergi ke suatu tempat secara fisik.

  1. Pembelajaran individu dan berbeda

Individual dan berbeda berarti mengajar setiap siswa harus dilakukan secara unik. Tujuan pembelajaran mungkin tetap sama untuk sekelompok siswa tetapi siswa secara individu dapat berbeda. Beberapa siswa mungkin belajar lebih baik melalui menonton video sementara beberapa perlu membaca buku bacaan. Aksesibilitas materi pembelajaran dan mendistribusikan sumber belajar dari rumah ke rumah dapat menjadi tantangan bagi guru.

  1. Dari ujian ke penilaian formatif

Evaluasi pembelajaran harus digunakan untuk memantau perkembangan siswa, bukan untuk ‘menetapkan’ seorang siswa itu mampu atau tidak mampu. Penilaian formatif seperti demonstrasi proyek sains, penyelesaian masalah matematika, atau membuat laporan proyek sosial lebih tepat untuk mengukur kemajuan belajar siswa.

Keempat aspek ini bisa menjadi pertimbangan untuk membantu siswa memasuki pembelajaran di era new normal. Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita sambut era baru lebih baik berkaca dari pengalaman selama masa pandemi Covid-19 dengan selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat di setiap waktu dan dapat meng-upgrade perkembangan teknologi informasi dewasa ini dalam menunjang pembelajaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us