PERAN INSTITUSI KELUARGA DAN SENI MENDIDIK ANAK SELAMA NEW NORMAL

Institusi merupakan sebuah lembaga atau organisasi yang diciptakan di dalam masyarakat untuk memberikan segenap manfaat bagi kehidupan bermasyarakat dan berperan memberikan bimbingan, pengayoman, pengajaran, serta menginternalisasikan nilai dan norma yang dianggap baik oleh suatu masyarakat. Menurut para ahli sosiologi institusi itu dapat berupa lembaga kekeluargaan, lembaga pendidikan, lembaga ekonomi, lembaga politik, dan lembaga agama. Masing-masing institusi tersebut memiliki peran dan fungsi masing-masing dalam membina dan mengotrol kehidupan bermasyarakat.

Institusi kekeluargaan bisa dikatakan yang paling terkecil dibandingkan institusi yang lainnya, karena keluarga adalah kelompok terkecil dalam strata organisasi masyarakat. Sebuah kelompok sosial dapat disebut sebagai suatu keluarga jika sudah terdiri dari seorang suami, isteri dan anak yang disebut keluarga inti. Peran keluarga sebagai instiusi adalah melindungi, menjaga, mengayomi, dan mendidik anggota keluarganya tentang nilai dan norma baik yang berlaku di masyarakat. Maka fungsi pendidikan sejatinya adalah tanggungjawab utama orang tua sebagai otoritas di dalam keluarga. Namun, tanggungjawab ini tergradasi kepada isntitusi pendidikan. Mereka menganggap bahwa pendidikan sepenuhnya merupakan tanggungjawab dari institusi pendidikan seperti sekolah, madrasah, pondok pesantren, dan sejenisnya.

Sebelum pandemi Covid-19 realita peralihan tanggungjawab dari orang tua sebagai agen pertama dan utama kepada institusi pendidikan dalam pendidikan anak sangat kentara sekali. Tidak bisa dipungkiri, walaupun tidak semuanya, tapi mayoritas orang tua yang mampu memilih menyekolahkan anak mereka di sekolah yang “all in one”, yang semuanya sudah tersedia di situ. Orang tua hanya perlu mengantar pagi dan menjemput sore hari anak-anak mereka ke sekolah. Semua kegiatan anak sepenuhnya dilakukan di sekolah, seperti kegiatan bermain, bersosial, keagamaan, makan, dan belajar. Ditambah lagi, sepulang sekolah anak-anak ikut les ini dan itu sampai malam hari. Sementara orang tua di rumah tinggal terima bersih, mereka mengharapkan hasil pendidikan sesuai dengan yang terpampang pada visi-misi sekolah. Begitu anak mereka keluar dari sekolah maka harus sesuai dengan janji-janji sekolah, jika tidak tercapai, mereka komplen ke pihak sekolah.

Lain halnya dengan orang tua yang tidak mampu, mereka menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah yang seadanya, yang mampu mereka akses saja. Walaupun anak-anak mereka tidak sekolah sampai “full day”, tapi kesempatan untuk mendidik dan mengajar anak-anak mereka terhalang kesibukan mencari kebutuhan sehari-hari keluarga. Sehingga peran dan fungsi mereka sebagai agen pertama dan utama dalam pendidikan anak pun terabaikan. Kemudian pertanyaannya, bagaimanakah orang tua menjalankah perannya tersebut selama masa new normal ini, dimana sekolah-sekolah masih ditutup, apakah mereka mampu menghadapi dan mengajari anak-anak mereka yang selama ini tidak mereka sertai pendidikannya? Dan bagaimana pendekatan atau “seni” yang dapat mereka terapkan selama masa new normal ini?

Mendidik bukanlah hal mudah, tidak semudah mengucapkannya, karena kegiatan mendidikan berarti suatu kegiatan yang melibatkan semua aspek yang ada dan berkaitan pada diri manusia. Aspek-aspek tersebut adalah aspek jasmani, aspek psikologis, aspek sosial atau lingkungan, dan aspek instrumental. Yang sangat kompleks adalah aspek psikologis, di dalamnya ada emosi, motivasi, minat, bakat, kepercayaan diri, dan sebagainya. Memadukan semua aspek tersebut tidaklah mudah, seorang calon pendidik membutuhkan waktu minimal empat tahun di bangku perkuliahan di fakultas pendidikan dan keguruan untuk mempelajarinya, bahkan tidak semuanya bisa dan berhasil ketika berhadapan dengan anak didik mereka. Lalu bagaimana dengan orang tua yang bukan seorang berlatang belakang pendidik dan tidak pula terlibat aktif dalam kegiatan mendidik anak-anak mereka selama ini?

Mendidik itu seperti seorang seniman, sebagaimana yang dikatakan Gilbert Highet dalam bukunya “The art of  Teaching” mendidik itu adalah sebuah seni, bukan sebuah ilmu. Di dalam Islam, sepanjang sejarah kehidupan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang termaktub di dalam hadis-hadisnya banyak menggambarkan tentang bagaimana beliau mendidik orang-orang yang berbeda usia, berbeda jenis kelamin, berbeda suku, berbeda karakter dan sifatnya menjadi seorang pembelajar yang sukses seperti ahli tafzir Ibnu Abbas, ahli hadis Abdullah bin umar, dan Abu Hurairah radiyallahu anhum yang dididik Nabi sejak kecil. Kemudian dari kalangan orang dewasa ada Abu Bakar, Umar, dan Usman yang memiliki pribadi utama dikalangan sahabat beliau. Sementara dari kalangan wanita ada ‘Aisyah yang ahli ilmu medis dan ahli hadis juga. Dalam praktiknya beliau melakukan pendekatan atau “seni” yang berbeda-beda ketika mendidik orang yang berbeda karakternya. Sehingga beliau berhasil dalam menamamkan nilai dan norma keislaman yang baik dan menciptakan suatu masyarakat yang madani.

Mendidik sebagai sebuah seni berarti seorang pendidik harus mampu meramu berbagai macam aspek yang ada pada diri manusia menjadi sebuah karya yang estetis. Dalam proses pendidikan tentu karya ini berupa pemahaman tentang nilai-nilai luhur dan kemapuan untuk mengimplentasikan nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menghasilkan karya tersebut tentu tidaklah mudah, orang tua harus mempunyai pengatahuan dan langkah yang tepat. Maka, guna memberikan pemahaman dan membantu orang tua dalam mendidik anak-anak mereka selama new normal ini, ada baiknya orang tua mengaplikasikan seni mendidik anak berikut ini:

Pertama, mehamahi psikologis anak. Anak secara psikologis berbeda dengan orang dewasa, mereka masih memiliki keterbatasan dalam berpikir, merasa, maupun bergerak. Karena kemampuan mereka untuk mendayagunakan kognisi, afeksi, dan motorik mereka masih belum maksimal. Apabila orang tidak memahami keterbatasan tersebut, tentu akan menjadi sumber kemarahan dan kekesalan ketika mengajari anak di rumah. Maka, orang tua harus memahami hal tersebut dan memberikan bantuan kepada anak apabila mengalami hambatan. Misalnya, ketika mengerjakan tugas dari gurunya di sekolah, jika anak tidak mampu, orang tua harus membimbing anak dalam mengerjakan tugasnya. Orang tua tidak boleh membiarkan anak bekerja sendiri, karena ini akan menjadi sumber stressor bagi anak dan ujung-ujungnya menimbulkan masalah juga bagi orang tuanya.

Kedua, manajemen waktu yang baik. Pengaturan waktu selama “stay at home” merupakan hal penting, karena orang tua harus membagi waktunya antara bekerja dan mendidik anak. Maka orang tua harus membagi waktunya, kapan dia bekerja, kapan dia menemani anak-anak belajar. Suami isteri harus bekerjasama, saling membantu. Di antara waktu-waktu yang efektif untuk menemani belajar misalnya setelah subuh atau pagi hari, setelah ashar, dan setelah isya. Di waktu-waktu tersebut keadaan psikologis anak cenderung lebih siap untuk belajar. Maka, selain waktu tersebut bisa digunakan anak untuk bermain dan istirahat.

Ketiga, mendidik yang menyenangkan. Orang tua harus mampu melakukan pendidikan yang menyenangkan selama anak di rumah, karena aksesibilitas sosial anak dibatasi selama new normal. Misalnya, orang tua bisa mengadakan sarana permainan edukasi di rumah atau dengan melibatkan anak dengan aktivitas orang tua di rumah seperti memasak, menyapu, mencuci kendaraan, berkebun dan sebagainya.

Keempat, kendalikan psikologis anda. Adalah tantangan yang sulit bagi orang tua ketika mendidik anak di rumah, apalagi bagi orang tua yang biasanya sibuk dan kurang berinteraksi dengan anak-anak mereka. Kondisi libur sekolah yang cukup lama ini bisa saja menjadi stressor bagi orang tua, karena tidak terbiasa menghadapi tugas-tugas sekolah anak mereka yang banyak. Maka orang tua perlu mengendalikan psikologisnya, melatih kesabarannya dalam menghadapi tingkah laku anak-anak selama di rumah.

Kelima, berkonsultasi dengan gurunya. Jika orang tua mengalami kendala selama mendidik anak di rumah, maka tidak ada salahnya berkonsultasi dengan guru atau sesekali jika memungkinkan lakukan pembelajaran daring dengan guru. Sehingga perkembangan belajar anak selama di rumah tetap dapat dipantau oleh guru dan orang tua bisa saling bekerjasama dengan guru dalam mendidik anak. [Syahri Ramadhan, S.Psi., M.S.I]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
× Chat with us